Kamis , 12 Oktober 2017, 13:31 WIB

AMIK BSI Sukabumi Ajak Mahasiswanya Kenali Thalasemia

Red: Irwan Kelana
Dok BSI
Mahasiswa AMIK BSI Sukabumi sangat antusias mendengarkan penjelasan mengenia penyakit thalasemia yang disampaikan Dr Hasan.
Mahasiswa AMIK BSI Sukabumi sangat antusias mendengarkan penjelasan mengenia penyakit thalasemia yang disampaikan Dr Hasan.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Penyakit thalasemia memang sudah tidak asing lagi. Namun, tidak sedikit yang belum paham akan bahaya penyakit tersebut dapat mengancam jiwa baik anak-anak maupun dewasa.

AMIK BSI Sukabumi bekerja sama dengan PT Astra Internasional Daihatsu Tbk menggelar sosialiasi bahaya penyakit thalasemia bertajuk ‘Bahagia, Ceria Sahabat Thalasemi Bersama Daihatsu’ di aula kampus AMIK BSI Sukabumi, Jalan Cemerlang  nomor  8, Sukakarya, Sukabumi, Selasa (10/10).

Sosialisasi yang dikemas dalam kegiatan ‘Daihatsu Berbagi” ini menghadirkan Dr Hasan Basri, ketua Thalassemia Kota Sukabumi, sebagai pembicara. Ia menuturkan, thalassemia merupakan suatu penyakit yang tidak menular, melainkan penyakit genetika yang menyebabkan kelainan sel darah merah ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin. Bahkan bagi penderita akut harus melakukan transfusi darah seumur hidupnya.

Karena itu, pencegahan dini sangat penting dilakukan, yakni dengan melakukan pemeriksaan darah pra-pernikahan sebagai upaya menekan lahirnya pengidap baru.

Menurutnya, pengidap penyakit ini dapat terlihat dengan beberapa gejala, yakni penampilan pucat dan lesu, nafsu makan yang buruk, urin gelap, pertumbuhan lambat serta penyakit kuning.

“Jika gejala-gejala tersebut telah terlihat, diharapkan masyarakat lebih peduli untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit terdekat,” kata Dr Hasan.

Lebih lanjut, Hasan menjelaskan,  terdapat dua macam penyakit thalasemia, yakni Thalassemia Minor yang tergolong ringan dan tidak mengharuskan penderita melakukan transfusi darah. Adapun satu lagi,  Thalasemia Mayor yang mengharuskan penderita melakukan transfusi darah seumur hidup.

“Hingga saat ini dunia medis belum menemukan obat untuk thalasemia. Satu-satunya cara dengan melakukan transfusi darah secara rutin. Oleh karenanya, masyarakat terutama mahasiswa yang memang generasi muda dapat mengenali sejak dini mengenai penyakit thalasemia. Sehingga,  dapat mencegah lahirnya kasus baru,” pungkas Dr Hasan.

Kordinator Kampus AMIK BSI Sukabumi Denny Pribadi menyambut antusias sosialisasi bahaya penyakit thalasemia tersebut. Hal itu mengingat, tidak sedikit mahasiswa belum mengetahui mengenai penyakit thalasemia tersebut.

“Dengan sosialisasi ini, mahasiswa dapat teredukasi mendapatkan informasi dan pengetahuan baru. Sehingga, mahasiswa paham mengenai penyakit thalasemia ini. Dengan demikian,  dapat menekan pertumbuhan kasus baru serta dapat melahirkan generasi bebas thalasemia pada masa yang akan datang,” kata Denny.

Kegiatan itu juga menghadirkan pula dua  penderita thalasemia serta seorang ibu yang kehilangan dua orang putranya akibat menderita thalasemia. Ketiganya, berbagi kisah dan pengalaman mengenai perjuangan menghadapi penyakit thalasemia tersebut.