Rabu , 08 November 2017, 15:47 WIB

Sema AMIK BSI Jakarta Gencar Kampanye Bahaya HIV/AIDS

Red: Irwan Kelana
Dok BSI
Mahasiswa AMIK BSI Jakarta kampus Cangkareng antusias menikuti seminar bahaya HIV/AIDS.
Mahasiswa AMIK BSI Jakarta kampus Cangkareng antusias menikuti seminar bahaya HIV/AIDS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Senat Mahasiswa (Sema) AMIK BSI Jakarta kampus Cengkareng bekerja sama dengan Suku Dinas Kesehatan Jakarta menggelar seminar tentang bahaya HIV/AIDS di aula AMIK BSI Jakarta kampus Cengkareng, Jalan Kamal Raya nomor  18, Ringroad Barat, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (1/11).

Seminar yang diikuti oleh 200 mahasiswa ini menghadirkan dr Janto Lingga Gunawan sebagai pembicara. Ia menegaskan, penyakit HIV/AIDS biasa dikenal dengan penyakit seksual yang menular dan memiliki masa inkubasi paling lama.

“Oleh karenanya,  untuk mencegah penyebaran penyakit HIV/AIDS ini perlu dilakukan beberapa penanganan, seperti tidak melakukan hubungan seksual yang berganti-ganti, melakukan injeksi suntikan yang steril, dan melakukan transfusi darah yang telah dilakukan pengecekan terbebas dari HIV,” kata dr Janto.

Lebih lanjut, Janto menjelaskan, untuk mencegahnya  dengan melakukan VCT atau tes HIV/AIDS secara dini. Selain itu juga melakukan hububungan seksual aman dan tidak melakukan injeksi suntikan secara bergantian.

Di samping itu,  mengkonsumsi ARV untuk mengembalikan efektivitas trombosit. “Dan yang paling penting, tidak malu untuk berkonsultasi tentang penyakit HIV/AIDS secara teratur dengan dokter,” kata Janto menambahkan.

Staf Kemahasiswaan AMIK BSI Jakarta Astrid Noviriandin menjelaskan, kegiatan yang dilakukan oleh Senat Mahasiswa AMIK BSI Jakarta kampus Cengkareng ini sebagai salah satu kepudulian kampus dalam hal membantu pemerintah untuk mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS. Hal itu dinilai penting  untuk mencegah perkembangan jumlah angka pesakit HIV/AIDS terutama di kota Jakarta.

“Setelah mengikuti seminar ini, kami berharap mahasiswa dapat lebih paham dan waspada terhadap penyakit HIV/AIDS yang saat ini belum ada obatnya. Setidaknya dengan hal kecil ini, kampus dapat memberikan kontribusinya membantu pemerintah dalam memperlambat perkembangan jumlah pesakit HIV/AIDS terutama di kota Jakarta,” kata Astrid.