Senin , 18 April 2016, 18:28 WIB

BEM UNS Tuntut Transparansi Penyelidikan Kematian Siyono

Red: Bayu Hermawan
Antara
Jenazah terduga teroris Siyono saat diangkat dengan kurung batang
Jenazah terduga teroris Siyono saat diangkat dengan kurung batang

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret Surakarta menggelar aksi menuntut transparansi penyelidikan kematian terduga teroris Siyono (34), warga Desa Pogung, Klaten.

Dalam aksi yang digelar di depan Markas Polres Kota Surakarta, puluhan mahasiswa tersebut selain melakukan orasi menuntut transparansi penyelidikan kasus Siyono, juga menggelar sejumlah spanduk, antara lain "Densus 88 Jangan Semena-mena", "Densus 88 Teliti Dahulu, Itu Nyawa Orang", dan "Penyidik atau Algojo".

Ramzi Sidiq selaku koordinator aksi dalam orasinya mengatakan kematian terduga Siyono setelah dilaksanakan kajian mengenai hasil autopsi jasadnya oleh PP Muhammadiyah dan Komnas HAM telah dapat tiga hal.

Menurutnya tiga tersebut terduga yakni mengalami tindak kekerasan di bagian dada yakni patah tulang iga kiri yang masuk ke organ dalam, jasad Siyono belum pernah diautopsi sebelumnya, dan tidak ada luka defensif menandakan tidak ada perlawanan.

Oleh karena itu, pihaknya menyampaikan beberapa sikap terkait kasus kematian Siyono pada khususnya dan penanganan terorisme pada umumnya, antara lain menyesalkan tindakan Densus 88, menuntut keterangan Polri atas perbedaan hasil autopsi dari PP Muhammadiyah, agar kasus ini segera diselesaikan dengan transparan dari pihak kepolisian.

Selain itu, pihaknya juga menuntut penindakan tegas terhadap oknum anggota Densus 88 yang lali dalam tugasnya menyebabkan kematian terduga Siyono, perbaikan sistem secara menyeluruh dalam tubuh Densus 88, meninjau kembali Undang Undang mengenai kewenangan Densus 88 yang terlalu luas.

"Kami juga menuntut evaluasi terhadap penanganan kasus terorisme supaya ke depan tidak terjadi kesalahan yang justru malah merugikan pihak tidak bersalah," katanya, Senin (18/4).

Puluhan mahasiswa setelah puas melakukan orasinya, mereka kemudian melakukan jalan jongkok dengan menyeberangi Jalan Adi Sucipto atau tepatnya depan Polres Kota Surakarta, sebagai simbol ketidakberdayaan individu yang disangka teroris dari Densus 88, sebelum mereka membubarkan diri aksinya dengan tertib.

Sumber : Antara