Rabu , 15 March 2017, 21:55 WIB

Setiap Hari Indonesia Produksi Sampah 65 Juta Ton

Rep: Maspril Aries/ Red: Maman Sudiaman
 Aktivitas pemulung bersama alat berat di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (11/2).  (Republika/Raisan Al Farisi)
Aktivitas pemulung bersama alat berat di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (11/2). (Republika/Raisan Al Farisi)

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Berapa produksi sampah di Indonesia setiap harinya? Direktur Jendral Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun (Dirjen PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Tuti Hendrawati Mintarsih memberi jawabannya.

“Tahun 2016 ada sekitar 65 juta ton sampah per harinya yang diproduksi masyarakat Indonesia. Jumlah ini naik  satu ton dibandingkan produksi 2015 sekitar 64 juta ton sampah perhari,” kata Tuti Hendrawati Mintarsih pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) pengelolaan sampah dan Rapat Kerja (Raker) pengelolaan sampah, limbah, dan bahan berbahaya beracun (B3), Rabu (15/3) di Palembang.

Pada pembuat Rakornas dan Raker yang dihadiri Wakil Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Ishak Mekki dan Wali Kota Palembang Harnojoyo, Dirjen Tuti Hendrawati Minarsih menjelaskan, khusus DKI Jakarta sampah yang dihasilkan jumlahnya sangat besar, sekitar 70 ribu ton per hari.

Untuk mengatasi masalah sampah tersebut menurut Tuti Hendrawati  pemerintah berencana membangun insinerator. Teknologi ini sudah dipakai di negara-negara maju di Indonesia. “Untuk di Indonesia sama sekali belum ada daerah yang mengaplikasi sistem ini.”

Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Beracun menjelaskan, cara pengolahan sampah dengan insinerator sangat tepat dalam menuntaskan permasalahan sampah dalam waktu cepat, namun yang menjadi kendala ialah biaya yang cukup besar dalam pengelolaan sampah dengan sistem tersebut sehinggga tidak terlalu cocok untuk diterapkan di kota-kota kecil.

“Sudah adabeberapa kota yang ingin menggunakan insinerator tapi masih terkendala dalam proses karena investasinya yang besar,” ujarnya.

Mengatasi masalah sampah itu, menurut Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya, pemerintah juga mendorong pengelolaan bank sampah khususnya dengan melibatkan generasi muda. “Pada beberapa kota seperti Jakarta, Banjarmasin dan Surabaya sudah menerapkannya. Pemerintah mendorong kota-kota lain juga memberdayakan generasi muda mengelola bank sampah,” kata Tuti Hendrawati.

Menurut Dirjen PSLB3 Tuti Hendrawati Mintarsih, pengelolaan sampah harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali anak muda. “Mereka ini sebagai generasi kreatif yang diharapkan mampu menyulap sampah anorganik menjadi benda-benda bernilai jual. Dengan begitu bukan hanya kota telah mengurangi jumlah sampah dibuang ke tempat pembuangan akhir tapi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya.

Tuti Hendrawati Mintarsih mengharapkan pemerintah kota aktif mengandeng kalangan muda dalam berbagai kegiatan terkait sampah, salah satunya sosialisasi 3R (reuse, reduce dan recycle).