Kamis , 20 April 2017, 11:15 WIB

Tuan Guru Bajang Telah Menegur, Tapi Steven Tetap Memaki

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Teguh Firmansyah
republika
Surat permohonan maaf Steven yang telah memaki Gubernur NTB di Bandara Changi Singapura, Ahad (9/4).
Surat permohonan maaf Steven yang telah memaki Gubernur NTB di Bandara Changi Singapura, Ahad (9/4).

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Kasus penghinaan berbau rasial yang dilakukan mahasiswa asal Indonesia, Steven Hadisudiryo Sulistyo kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Haji Muhammad Zainul Majdi atau yang dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB) sempat menyita perhatian publik.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nadhlatul Wathan (PBNW) Hasanain Juaini membeberkan kronologi lengkap terkait kasus yang terjadi di Bandara Changi, Singapura, pada Ahad (9/4) tersebut. "Satu kekhawatiran mendalam bagi saya adalah terjadinya bias sebagai akibat para pembaca berita tidak memahami dengan baik dan menyeluruh asal muasal kejadian tersebut," kata Hasanain dalam keterangannya kepada Republika.co.id di Mataram, NTB, Kamis (20/4).

Hasanain menilai, banyak berita melansir berita ini. Namun, acuannya sangat sederhana yaitu kesalahpahaman antara TGB dengan Steven saat mengantre di Bandara Changi, yang kemudian berakhir pada permintaan maaf Steven di sejumlah media nasional.

"Secara keseluruhan, kedalaman berita-berita terkait masalah tersebut hanya sebatas itu, sehingga pembaca sudah pasti tidak akan dapat menangkap nuansa dan spektrumnya seapa adanya," ujar peraih penghargaan Ramon Magsaysay Award tersebut.

Kemudian, pimpinan Pondok Pesantren Nurul Haramain itu bersama beberapa orang melakukan tabayun dengan TGB untuk mendapatkan cerita lengkap peristiwa tersebut. Hasanain mengaku terkejut mendengar ceritanya, hatinya merasa tergetar dengan keluhuran sikap TGB.

Baca juga, Mendapat Hinaan, Ini Kata Gubenur NTB.

Sebenarnya, Steven sudah mendapatkan teguran sangat santun dari TGB agar tidak mengucapkan kalimat-kalimat yang berbau sara. Bahkan TGB mengalah dengan cara berpindah dan menjauh demi memberikan keleluasaan kepada yang bersangkutan.

"Tetapi, Steven tetap meluapkan kata-kata kotor sekalipun sudah berjauhan, sehingga orang banyak yang mengantre mendengarkan umpatan-umpatannya."

Di antara peringatan yang TGB berikan adalah jangan menyebut-nyebut kata pribumi, namun yang bersangkutan sambil berkacak pinggang dan menantang, tetap menghamburkan umpatan-umpatannya.