Selasa , 30 Mei 2017, 22:19 WIB

TNI Tingkatkan Kewaspadaan di Perbatasan

Red: Andi Nur Aminah
Republika/Rusdy Nurdiansyah
Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) TNI AD dari Yonif 131/Brata Sakti dan Tentara Diraja Malaysia (TDRM) melaksanakan patroli bersama di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Pos Komando Taktis (Pos Kotis) TNI AD di Entikong, Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (17/5).
Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) TNI AD dari Yonif 131/Brata Sakti dan Tentara Diraja Malaysia (TDRM) melaksanakan patroli bersama di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Pos Komando Taktis (Pos Kotis) TNI AD di Entikong, Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (17/5).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Mayor Jenderal TNI Wuryanto menegaskan semua satuan TNI, khususnya di wilayah perbatasan melaksanakan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan guna mengantisipasi masuknya pesawat pemberontak militan ISIS dari Marawi, Filipina ke Indonesia. "Di darat, TNI bersama dengan institusi terkait lainnya, terutama Polri dan pemerintah daerah (Pemda) memantau dan mengawasi wilayah masing-masing di pulau-pulau terluar," kata Kapuspen TNI menanggapi kekhawatiran masuknya para militan ISIS dari Filipina seusai tentara Filipina menggempur Marawi, daerah yang diduga menjadi basis ISIS di Filipina, di Jakarta, Selasa (30/5).

Tak hanya itu, TNI Angkatan Laut juga melaksanakan patroli keamanan maritim di wilayah Maluku Utara, Sulawesi Utara hingga wilayah Kalimantan bagian utara. Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sebelumnya mengatakan, jika ada militan ISIS yang diketahui berusaha masuk ke Indonesia, maka akan diserahkan kepada polisi untuk diproses secara hukum. Gatot kembali menegaskan bahwa semua jalur masuk dari Filipina ke Indonesia dijaga ketat, termasuk jalur tikus yang kerap dimanfaatkan para militan.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono juga mengatakan hal serupa dengan mewaspadai dampak dari konflik militan ISIS dan militer Filipina di Marawi, Filipina. "Kita waspada harus siap siaga. Terlebih masuknya jaringan teror melalui celah-celah wilayah perbatasan NKRI," kata KSAD di Mabes AD, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Selasa.

Mulyono tidak menjelaskan berapa pasukan yang disiapkan di wilayah perbatasan NKRI. Tidak bisa dimungkiri bahwa aksi teroris muncul kapan saja dan dimana saja, oleh karena itu pihaknya siap mencegah munculnya jaringan kelompok teror baru.

"Kita harus waspada, kita harus siap siaga, semua jaringan deteksi dini, cegah dini kita siapkan di seluruh wilayah NKRI. Antisipasi itu dimanapun kita berada, karena kita tahu teroris akan muncul, semua jajaran AD harus waspada dan siap siaga untuk mendeteksi dini," tegas Mulyono.

Sementara itu, soal peran TNI dalam penanggulangan terorisme, Mulyono menilai, prajurit TNI AD siap digerakkan.
"Kalau TNI AD dilibatkan, ikut saja. Teroris dimana, di hutan boleh. Tentara kan kalau di hutan makan apa saja," katanya.

Sebelumnya, militer dan aparat kepolisian Filipina terlibat baku tembak dengan sekelompok orang yang diduga ISIS di wilayah Marawi, Filipina. Bentrokan terjadi pada Selasa (23/5) waktu setempat, saat tentara Filipina melakukan penggerebekan terhadap kelompok militan Maute yang mengaitkan diri dengan kelompok radikal ISIS.

Militan Maute yang menguasai kota Marawi, dilaporkan berhasil mengambil alih sejumlah gedung dan membakar sekolah, gereja, juga fasilitas penahanan setempat. Militer Filipina masih berupaya membebaskan kota tersebut dari kepungan Maute.

Sumber : antara

Berita Terkait