Senin , 05 Juni 2017, 19:07 WIB

Panglima: Jenderal Sudirman Didikan dan Kader Muhammadiyah

Rep: Amri Amrullah/ Red: Teguh Firmansyah
Republika/Rakhmawaty La'lang
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muhamadiyah merupakan salah satu organisasi agama yang ikut dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia, dari ancaman penjajah. Hal itu disampaikan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat  memberikan ceramah kebangsaan di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jalan Ringroad Selatan, Bantul Yogyakarta, Ahad (4/6).
 
Gatot Nurmantyo menjelaskan, Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman adalah salah satu tokoh pejuang hasil didikan dan kader Muhammadiyah. Pada masa itu juga ia juga dikenal guru Kepala Sekolah Muhammadiyah dan Ketua Muhammadiyah di Cilacap. 

“Perjuangan TNI tidak terlepas dari rakyat dan Muhammadiyah, sehingga begitu Jenderal Soedirman memimpin yang apa diajarkan di Muhammadiyah juga diterapkan di militer,” ungkapnya.
 
“Pada saat memperjuangkan kemerdekaan beliau tidak pernah lepas dari bersuci, tidak pernah batal wudhu,  dan selalu mengerjakan sholat tepat waktu walaupun dalam kondisi yang sangat genting sekalipun, hal-hal tersebutlah yang diterapkan oleh ajaran Muhammadiyah.”
 
Pada kesempatan tersebut Panglima TNI meminta agar warga Muhammadiyah dan seluruh bangsa Indonesia harus semakin waspada, untuk terus berperan dan berjuang dalam menjaga NKRI.  “TNI lahir dari rakyat dan bersama Muhammadiyah, mari kita bergandengan tangan membangun dan jangan mudah terprovokasi agar bangsa Indonesia menjadi besar dan menjadi bangsa pemenang,” ucapnya.

(Baca Juga: Ini Dua Ancaman Nyata Bangsa Indonesia Saat Ini Menurut Panglima)

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi tantangan kompetisi global. Dalam menghadapi tantangan tersebut, bangsa Indonesia harus menjadi bangsa pemenang. 

“Kompetisi yang tadinya antar negara menjadi antar manusia, inilah salah satu kompetisi global. Orang yang tinggal di luar negara-negara ekuator akan mengalami krisis pangan, energi dan air, sehingga akan melakukan migrasi menuju daerah ekuator seperti Indonesia,” jelasnya.