Ahad , 13 Agustus 2017, 12:11 WIB

Gempa Susulan Terjadi, Warga Bengkulu diminta Tak Panik

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Bilal Ramadhan
Reuters
Gempa. Ilustrasi
Gempa. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat Bengkulu dan Sumatra Barat untuk tak panik akibat gempa susulan yang terjadi setelah gempa 6,4 SR terjadi pukul 10.08 WIB tadi. Hingga pukul 10.51 WIB, Hasil monitoring BMKG menunjukkan sudah terjadi aktivitas gempabumi susulan (aftershock) sebanyak 1 kali.

"Kepada masyarakat di wilayah Pesisir Bengkulu dan sekitarnya diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu," ujar Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Mochammad Riyadi, Ahad (13/8).

BMKG melaporkan terjadinya gempa bumi yang getarannya dirasakan wilayah Pesisir Barat Bengkulu hingga Sumatera Barat diguncang gempabumi tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi berkekuatan magnitud 6,4 terjadi dengan koordinat episenter pada 3,68 LS dan 101,69 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 36 km arah barat daya Kota Ketaun, Kabupaten Bengkulu Utara, Propinsi Bengkulu pada kedalaman 58 km.

Dampak gempabumi berdasarkan shakemap dan laporan masyarakat menunjukkan bahwa dampak gempabumi berupa guncangan dirasakan di Bengkulu, Bengkulu Utara, dan Kepahiang dalam skala intensitas II SIG-BMKG (V MMI).

Guncangan juga dirasakan di Lubuk Linggau, Bengkulu Selatan, Kerinci, Liwa dalam skala intensitas II SIG-BMKG (IV MMI). Sementara di Pariaman, Tua Pejat, Mentawai, Pesisir Selatan, Padang dalam skala intensitas II SIG-BMKG (III MMI), termasuk Padang Panjang, Bukit Tinggi, Paya Kumbuh dalam skala intensitas I SIG-BMKG (I-II MMI). Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Ditinjau dari kedalaman hiposenternya, tampak bahwa gempabumi ini termasuk dalam klasifikasi gempabumi dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia tepatnya di zona Benioff di bawah cekungan busur muka (fore arc basin), Samudera Hindia sebelah barat Sumatra.

Konvergensi kedua lempeng tersebut membentuk zona subduksi yang menjadi salah satu kawasan sumber gempabumi yang sangat aktif di wilayah Sumatra. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dipicu oleh penyesaran naik (thrust fault).