Ahad , 13 Agustus 2017, 21:46 WIB

Sebelum Ditembak Mati, Bandar Ini Edarkan Puluhan Kilo Sabu

Rep: Issha Harruma/ Red: Andri Saubani
Republika/ Wihdan Hidayat
[ilustrasi] Tersangka sindikat jaringan sindikat narkotika internasional Malaysia-Aceh dan Medan dihadirkan oleh BNN saat gelar barang bukti kasus pengiriman narkotika jenis sabu di Kantor BNN, Jakarta, Senin (22/5).
[ilustrasi] Tersangka sindikat jaringan sindikat narkotika internasional Malaysia-Aceh dan Medan dihadirkan oleh BNN saat gelar barang bukti kasus pengiriman narkotika jenis sabu di Kantor BNN, Jakarta, Senin (22/5).

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Bandar narkoba yang ditembak mati di Medan, Sumatra Utara ternyata telah mengedarkan sekitar 48 kg sabu sebelum ditangkap. Dia juga diketahui merupakan pimpinan dari kelompok jaringan pengedar sabu di Kota Medan.

Bandar sabu bernama Aiyub (54) itu ditangkap polisi di sebuah rumah kos di Jl Beo, Perumnas Mandala, Medan, Sabtu (17/8) petang. Dari tangannya, petugas menyita sebungkus sabu seberat 2 kg. "Sabu 2 kg yang kami amankan tadi malam ini yang tersisa dari 50 kg sabu yang dimiliki pelaku," kata Kapolrestabes Medan Kombes Sandi Nugroho di RS Bhayangkara Medan, Ahad (13/8).

Sandi mengatakan, sebelum datang ke Medan, Aiyub yang merupakan warga Aceh itu tinggal di Bogor, Jawa Barat. Dia lalu kembali datang ke Medan untuk memantau bisnis narkoba di kota ini sembari membawa 50 kg sabu. "Aiyub ini pimpinan kelompok pengedar narkoba di Medan. Dia juga memasok ke Aceh, Medan dan kota sekitarnya," ujar dia.

Sandi mengatakan, sabu yang diedarkan Aiyub berasal dari Malaysia. Barang haram itu dibawa masuk ke Indonesia melalui jalur laut. Namun, Sandi mengaku, penyidik belum mendapatkan jalur yang dilewati hingga sabu itu bisa sampai di Medan. Hal ini dikarenakan keterangan Aiyub yang selalu berbelit-belit.

Aiyub ditembak mati karena melawan petugas dengan senjata tajam dan berusaha melarikan diri saat pengembangan dilakukan. Pada tubuhnya, terdapat tiga luka tembak di bagian punggung yang membuat dia mengalami pendarahan dan meninggal.

Saat ini, polisi masih melakukan pengembangan dan memburu dua tersangka lain yang diduga terlibat. Keduanya berinisial RL dan TN. "Masih dalam pengembangan karena diduga ada dua nama yang terlibat jaringan ini," ujar Sandi.