Senin , 28 August 2017, 15:02 WIB

Kekeringan Landa Sabu Raijua NTT

Red: Yudha Manggala P Putra
kekeringan - ilustrasi
kekeringan - ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Kekeringan hebat dilaporkan melanda hampir seluruh Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur sejak Mei 2017 yang mengakibatkan salah satu pulau terdepan Indonesia itu ditetapkan sebagai Darurat Kekeringan.

Pelaksana Tugas Bupati Sabu Raijua Nicodemus Rihi Heke yang dikonfirmasi Antara melalui telepon genggam dari Kupang, Senin, mengakui hal tersebut, dan mengatakan pemerintahannya telah menetapkan daerah itu Darurat Kekeringan.

"Kekeringan di Sabu Raijua memang bukan hal yang baru, tetapi pemerintah harus melaporkan kepada gubernur sehingga jika terjadi keadaan luar biasa, pemerintah provinsi sudah mengetahui kondisi di Sabu dan bisa dilakukan antisipasi bersama," katanya.

Dia mengatakan, saat ini semua desa di wilayah itu mengalami kesulitan air bersih karena semua sumber mata air mulai mengering akibat kemarau panjang.

Kepala Pelaksana BPBD Sabu Raijua Pither Mara Rohi yang dikonfirmasi Antara melalui telepon genggam dari Kupang, secara terpisah mengakui adanya darurat kekeringan di wilayah itu selama sekitar tiga bulan terakhir.

Menurut dia, selama beberapa bulan terakhir ini, rakyat daerah itu mengalami kesulitan air bersih karena sumber-sumber mata air mengering, begitu pun dengan embung-embung yang dibangun pemerintah untuk menampung air. "Saya sudah mengelilingi hampir seluruh wilayah Sabu. Semua desa mengeluh kesulitan air bersih. Kekeringan tampak di mana-mana," katanya.

Bahkan ada kepala desa yang mengaku bahwa rakyatnya tidak bisa membasuh muka apalagi mandi karena ketiadaan air.

Dia mengatakan, sejak Juni 2017, pemerintah telah mengambil langkah penanganan melalui tanggap darurat dengan melakukan pendropingan air hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga dengan menggunakan mobil tanki.

Pither Mara Rohi mengatakan tanggap darurat ini diperkirakan akan berlangsung hingga bulan Desember atau musim hujan mendatang.

Dia mengatakan dalam operasi tanggap darurat, pihaknya mengalami kesulitan karena desa-desa tidak memiliki tempat penampungan air bersih. "Kita mengirim mobil tanki, tetapi karena warga desa tidak memiliki tempat penampungan sehingga bantuan air bersih tidak bisa disalurkan secara cepat," katanya menambahkan.

Karena itu, dia berharap, pemerintah pusat dapat membantu pembangunan bak-bak penampung air di desa-desa sebagai wadah untuk menampung air bantuan dari pemerintah.

Sumber : Antara