Kamis , 14 September 2017, 08:24 WIB

13,5 Hektare Lahan Pertanian Terancam Kekeringan di Sukabumi

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Andi Nur Aminah
Antara/Adiwinata Solihin
Seorang petani memanen padi di sawah miliknya yang mengalami kekeringan (ilustrasi)
Seorang petani memanen padi di sawah miliknya yang mengalami kekeringan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Bencana kekeringan di Kota Sukabumi mengancam belasan hektare areal pertanian. Dampaknya bila tidak kunjung mendapatkan pasokan air maka berpotensi terkena kekeringan.

Data Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Sukabumi menyebutkan, jumlah lahan pertanian yang terancam kekeringan mencapai luasan 13,5 hektare. Wilayah pertanian yang terancam kekeringan berada di lima kecamatan yakni Warudoyong, Lembursitu, Baros, Gunungpuyuh, dan Cibeureum.

"Laporan dari petugas di lapangan ada seluas 13,5 hektare yang terancam kekeringan," ujar Sekretaris DKP3 Kota Sukabumi Ate Rahmat kepada Republika.co.id, Kamis (14/9). Kecamatan yang lahannya paling banyak terancam kekeringan lanjut dia berada di Cibeureum dan Baros.

Di wilayah tersebut kata Ate, luasan yang terancam kekeringan mencapai 5,5 hektare. Kekeringan di Cibeureum berada di dua kelurahan yakni Cibeureum Hilir dan Sindangpalay. Sementara di Baros luasan yang terancam kekeringan mencapai tiga hektare.

Menurut Ate, jika lahan pertanian tersebut tidak mendapatkan pasokan air maka dikhawatirkan terkena kekeringan. Terutama lanjut dia untuk tanaman padi yang umur tanamnya di bawah 30 hari karena sangat membutuhkan pasokan air. Ate mengatakan, pemkot sebelumnya telah mengimbau agar petani untuk sementara menunda dulu penanaman padi. "Bagi yang belum diimbau untuk menunda penanaman," imbuh dia.

Sementara untuk yang sudah terlanjur menanam kata Ate, DKP3 menyarankan agar petani berupaya maksimal mengairi areal persawahannya agar tidak kekeringan. Caranya lanjut dia dengan memompa air dari sumber air yang masih tersedia.

DKP3 ungkap Ate, telah menyediakan alat pompa air yang bisa dimanfaatkan oleh petani yang membutuhkannya. Penyediaan alat ini memang sudah disiapkan jauh-jauh hari untuk menghadapi dampak kekeringan pada areal pertanian.