Jumat , 15 September 2017, 18:38 WIB

Kekeringan Picu Titik Panas di NTT

Red: Yudha Manggala P Putra
Antara
Titik panas. Ilustrasi
Titik panas. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mencatat semakin banyak sebaran hotspot atau titik panas muncul di sejumlah pulau dalam wilayah Nusa Tenggara Timur, dipicu dampak kekeringan yang tengah melanda NTT.
Hal ini terlihat dari hasil deteksi satelit Terra dan Aqua yang menunjukkan area potensial karhutla terbanyak terlihat di Pulau Timor, Flores dan Sumba, kata Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Bambang Setiatji di Kupang, Jumat (15/9).

Dalam sepekan terakhir ini terhitung tanggal 10-15 September 2017 tingkat sebaran titik panas semakin meningkat mencapai 34 hotpot dibanding pekan sebelumnya hanya maksimal 15 titik panas. "Titik panas terbanyak muncul pada tanggal 11 September yaitu sebanyak 34 titik dibanding sebelumnya," katanya.

Di pulau Pulau Timor misalnya terutama di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Malaka dan Belu nampak sekali titik-titik api bersebaran dan terlihat dengan jelas. Selain di pulau Timor yang nampak delapan titik api itu, satelit juga mendeteksi tiga hotspot (titik panas) berada di Pulau Flores dan satu lagi di Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sehingga katanya perlu ada kewaspadaan dan antisipasi seiring dengan mulai masuknya musim kering dan musim kemarau.
Ia mengatakan titik panas tersebar di wilayah Nusa Tenggara Timur ini diyakini menjadi penyebab terjadinya Karhutla.
Sehingga meskipun Kementerian LHK menyatakan jumlah hotspot atau titik api secara nasional berkurang hingga 70-90 persen, namun kewaspadaan terus ditingkatkan seiring dengan mulai masuknya musim kering.

Atas dasar itu katanya, Kementerian LHK menyatakan jumlah hotspot atau titik api secara nasional berkurang hingga 70-90 persen, namun kewaspadaan terus ditingkatkan seiring dengan mulai masuknya musim kering.

Meskipun jumlah hotspot tahun 2016 dibanding tahun 2015 (Periode 1 Januari-28 Agustus) dari pantauan satelit NOAA18/19 mengalami penurunan dari 8.247 titik tahun lalu, menjadi 2.356 titik pada 2017 atau lebih dari 74,64 persen.

Secara nasional katanya penurunan terbesar terjadi di Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah. Di Riau, pada periode yang sama tahun 2015 terdapat 1.292 titik api, sementara tahun ini turun jadi 317 titik. Sedangkan di Kalteng, dari 1.137 titik api tahun lalu, turun menjadi 56 titik api pada tahun ini. "Kita berharap setiap kabupaten menyiapkan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan penanganan kebakaran hutan dengan melibatkan masyarakat," katanya.

Pada titik ini katanya peran perusahaan swasta dan masyarakat menjaga areal perkebunan mereka memunculkan titik api baru dan menghindari pembukaan lahan baru dengan cara membakar.

Sumber : Antara