Kamis , 21 September 2017, 20:58 WIB

Tak Dapat Ambulans, Ibu ini Gendong Jenazah Bayinya Naik Angkot

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Bayu Hermawan
Antara/ca
Jenazah (ilustrasi).
Jenazah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG -- Delvasari, terpaksa membawa anak bayinya yang meninggal naik angkot setelah operasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Moeloek Lampung, Rabu (20/9). Ia tidak mendapatkan mobil ambulans rumah sakit untuk mengantarkan ke rumahnya di Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara.

Berita dan foto Delvasari menggendong jenazah anak bayinya di dalam angkot Trayek Rajabasa Tanjungkarang beredar luas di berbagai media sosial sepanjang Rabu (20/9) hingga Kamis (21/9). Kegetiran ibu muda untuk meminta mobil ambulans tersebut, mengundang reaksi para warganet terhadap ibu dan bayinya, setelah menjalani operasi di RSUD Abdul Moeloek.

"Seharusnya, pihak Rumah Sakit Abdul Moeloek tidak begitu saja kalau bayinya meninggal selesai urusan. Mestinya diurus naik mobil ambulans sampai ke rumah dengan selamat," tutur Winda, salah seorang warganet dalam akun instagramnya menanggapi berita dan foto ibu Delvasari menggendong jenazah anaknya.

Sedangkan Eni, warganet lainnya menyesalkan pihak rumah sakti yang teledor dengan pelayanan kepada masyarakat. Menurut dia, siapa pun yang berobat di rumah sakti milik pemerintah dan swasta harus dilayani dengan baik. Jangan memandang kaya dan miskin, pejabat atau orang biasa. Rumah sakit itu pelayanan publik, kata seorang mahasiswa tersebut.

Maraknya berita dan foto ibu menggending jenazah bayinya di media sosial, pihak RSUD Abdul Moeloek baru bereaksi. Utusan RSUD Abdul Moeloek dan juga Pemprov Lampung mendatangi rumah korban di Gedung Nyapah, Kecamatan Abung Timur, Lampung Utara, Kamis (21/9).

Direktur Diklat dan SDM RSUD Abdul Moeloek, Arief Effendi menyampaikan duka mendalam.

"Siapa pun pasien baik itu BPJS atau umum tindakan pelayanannya sama. Kami tidak membeda-bedakan. RSUAM adalah tipe B, kami memang benteng terakhir," kata Arief Effendi dalam rilis yang diterima < i >Republika< /i >, Kamis (21/9).

Mengenai permintaan uang Rp 2 juta untuk mobil ambulans rumah sakit, Direktur Umum RSUDAM Ali Subaidi mengatakan masih menyelidiki dan mengklarifikasinya. Menurut Ali, pihaknya telah mengumpulkan seluruh supir dan petugas pul mobil ambulans rumah sakit.

"Semua kami kumpulkan. Namun sopir ambulans saat itu, Jhon Sinaga, tidak hadir sehingga info kongkret tentang permintaan uang Rp 2 juta belum bisa diklarifikasi, katanya.

Namun karena akar masalah dari mereka, maka mulai Kamis (21/9) yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa mobil jenazah. Kami terus mencari Jhon untuk klarifikasi masalah ini," kata Ali Subaidi.

RSUD Abdul Moeloek juga memberikan sanksi tegas pemindahan ke bagian lain kepada perawat Dwi Hartono. Menurut Ali, perawat seharusnya cek and ricek atas jenazah namun tidak dilakukan.

"Perawat harusnya mengecek dan memastikan jenazah naik ambulans. Itu tidak dia lakukan. Memang ada alasan yang disampaikan, tapi kami tidak bisa tolerir," kata Ali.