Sabtu , 23 September 2017, 18:05 WIB

Begini Kondisi Amlapura Setelah Status Gunung Agung Naik

Red: Nur Aini
ANTARA/Ahmad Subaidi
Siluet Gunung Agung di pulau Bali terlihat dari pinggiran pantai Ampenan, Mataram, NTB, Kamis (21/9). Status aktivitas Gunung Agung ditingkatkan dari level
Siluet Gunung Agung di pulau Bali terlihat dari pinggiran pantai Ampenan, Mataram, NTB, Kamis (21/9). Status aktivitas Gunung Agung ditingkatkan dari level "waspada" menjadi "siaga" pada Senin (18/9) malam.

REPUBLIKA.CO.ID, AMLAPURA -- Kota Amlapura di Kabupaten Karangasem, Bali, terpantau lengang sehari setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status vulkanik Gunung Agung menjadi awas pada Jumat (22/9) malam, karena ditinggal mengungsi oleh sebagian penduduknya.

"Kota Amlapura sepi karena arus pengungsian warganya mulai Jumat malam," kata Komandan Satgas Siaga Darurat Gunung Agung Letkol Inf Fierman Sjafierial Agustus ketika menghadiri rapat koordinasi darurat Gunung Agung di Kantor Bupati Karangasem, Bali, Sabtu (23/9).

Menurut Fierman yang juga Komandan Kodim 1623 Karangasem itu wilayah kota termasuk zona kuning atau kawasan rawan bencana I yang berpotensi terdampak aliran material yang terbawa banjir apabila setelah erupsi muncul hujan.
Kondisi tersebut membuat warga di daerah perkotaan juga meninggalkan kediamannya. Beberapa sudut kota seperti di Jalan Sudirman dan Jalan Gajah Mada yang menjadi salah satu pusat perdagangan nampak sepi. Sejumlah toko-toko yang biasanya ramai saat akhir pekan, sebagian besar di antaranya terlihat tutup.

Bahkan, salah satu pasar swalayan di kota tersebut juga tutup sehingga pemandangan tersebut kontras tatkala libur akhir pekan yang biasanya ramai pengunjung. Meski demikian di beberapa permukiman warga seperti di Jalan Ngurah Rai, beberapa warga masih terlihat berkumpul di depan rumah mereka.

Data sementara BNPB menyebutkan hingga Sabtu pagi jumlah pengungsi mencapai hampir 13 ribu yang berada di 50 titik posko pengungsian di tiga kabupaten yakni Buleleng, Klungkung dan Karangasem. Fierman menambahkan gelombang pengungsi mencapai puncaknya pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari sekitar pukul 03.00 Wita.

Sementara itu, arus pengungsian warga Karangasem hingga Sabtu sore juga masih terjadi hingga mengakibatkan kepadatan dan kemacetan arus lalu lintas di kawasan Desa Manggis dan Jalan Raya Goa Lawah. Dari jalur tersebut, sebagian besar pengungsi membawa sejumlah kebutuhan selama mengungsi seperti beras, pakaian, dan kasur matras, menumpangi kendaraan pribadi menuju arah Denpasar, Klungkung, dan Gianyar.

Sumber : Antara