Jumat , 29 September 2017, 07:47 WIB

Capaian Suku Kokoda tak Bisa Diukur Meteran Ibu Kota

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yudha Manggala P Putra
Wahyu Suryana/ REPUBLIKA
Kampung Warmon Kokoda, tempat tinggal Suku Kokoda yang merupakan satu dari lima desa binaan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Rabu (20/9).
Kampung Warmon Kokoda, tempat tinggal Suku Kokoda yang merupakan satu dari lima desa binaan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Rabu (20/9).

REPUBLIKA.CO.ID, SORONG -- Suku Kokoda merupakan masyarakat asli Papua nomaden yang saat ini sudah menjalani kehidupan secara semi permanen. Satu dari lima desa binaan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah ini semakin meningkatkan kualitas kampungnya baik dari sisi sosial, ekonomi maupun keimanan.

Sejak 2013, MPM PP Muhammadiyah senantiasa melakukan pembinaan, sembari memperjuangkan hak-hak mereka sebagai warga negara mulai dari tanah, rumah tinggal, akses jalan dan air bersih. Lewat MPM, rutin didatangkan anak-anak Kuliah Kerja Nyata SKTIP Sorong dan UMY mengabdikan diri untuk masyarakat.

Ketua STKIP Sorong, Rustamaji menuturkan, pembangunan karakter jadi salah satu nilai yang paling penting dalam membina masyarakat Suku Kokoda. Untuk itu, penanaman nilai-nilai harus dilakukan melalui perangkat lunaknya, sekaligus contoh-contoh nyata yang bisa mereka teladani.

Namun, ia menegaskan, pembinaan kepada Suku Kokoda yang terbiasa hidup berburu dan berpindah-pindah harus dilaksanakan lewat cara-cara natural tapi pasti. Menurut Rustamaji, kesuksesan masyarakat menjalani kehidupan tidak bisa diukur seperti masyarakat perkotaan.

"Mengukur keberhasilan mereka tidak bisa diukur seperti pencapaian orang-orang di ibu kota, tidak bisa seperti itu," kata Rustamaji kepada Republika.co.id, Kamis (21/9) lalu.

Pencapaian, lanjut Rustamaji, haruslah diukur melalui proses yang telah dilalui masyarakat Suku Kokoda, dan itu yang harus jadi tolak ukur utama. Prosesnya harus pula dilakukan secara bertahap, satu demi satu yang suatu saat akan dapat diterapkan Suku Kokoda secara mandiri.

Senada, Ketua MPM PP Muhammadiyah, Nurul Yamin mengatakan, pembinaan tidak bisa dilaksanakan dengan target-target yang malah mengarah kepada proyek. Maka itu, ia menekankan, pemberdayaan dilakukan melalui langkah-langkah natural, sehingga memerlukan kesabaran menjalani prosesnya.

"Tidak bisa ditarget ini itu, yang malah berpotensi proyek, proses pembinaan harus alami dan memerlukan kesabaran ekstra serta hela nafas panjang," ujar Yamin saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (27/9).

Saat ini, masyarakat Suku Kokoda sudah resmi menjadi desa Kampung Warmon Kokoda, dengan tanah yang telah dibebaskan serta sekitar 55 rumah yang bisa ditempati. Tetuanya mulai membangun administrasi desa, pemudanya belajar bertani dan beternak, sedang anak-anaknya telah mulai sekolah dan mengaji.