Selasa , 10 October 2017, 04:37 WIB

Memanfaatkan Teknologi dalam Mengais Rejeki

Red: Ratna Puspita
Republika/Dadang Kurnia
Perajin Sampah Daun
Perajin Sampah Daun

Oleh Dadang Kurnia

Wartawan Republika

 Sampah dedaunan yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan, atau halaman rumah menjadi pemandangan lazim sehari-hari. Terkadang, sampah organik tersebut malah dibakar demi menghasilkan lingkungan bersih. Padahal, dengan kreativitas, sampah dedaunan tersebut sebenarnya bisadisulap menjadi rupiah.

Misalnya, Siti Retnanik, perempuan 58 tahun asal Surabaya itu mampu menyulap sampah daun menjadi kerajinan bernilai jutaan rupiah. Tangan kreatif Nanik mampu menyulap dedaunan menjadi kerajinan-kerajinan yang menunjang interior rumah seperti lukisan, kap lampu, vas bunga, kontak tisu, tudung saji dan lain sebagainya. 

Ada juga pernak-pernik pernikahan seperti undangan, souvenir, buku tamu, seserahan, mahar yang juga berbahan dasar sampah daun. “Paling murah itu Rp 7,500 itu seperti souvenir-souvenir pernikahan, undangan. Paling mahal Rp 5 juta, itulukisan, karena ini pure seni,” ucap perempuan yang akrab disapa Nanik Daun saat ditemui Republika di kediamannya, Jalan Ngagel Mulyo XV nomor 23A, Surabaya, pekan lalu. 

Selain itu, Nanik mengatakan, yang juga banyak dipesan di bengkel kriya daun miliknya adalah kemasan produk. Pemesannya pun tidak hanya datang dari dalam negeri, melainkan juga dari beberapa negara di Eropa dan Asia. 

Kemasan produk yang banyak dipesan dari dalam negeri adalah kemasan batik dan kopi. Pesanan dari luar negeri biasanya meliputi kemasan cokelat, permen, dan tempat penyimpanan abu jenazah. “Pertama kali saya melempar ke luar negeri itu ke Prancis untuk kemasan cokelat. Ke Jerman, kemasan permen, Korea tempat dupa, ke Inggris itu sudah 12 tahun kirim kemasan tempat penyimpanan abu jenazah. Itu rutin setiap bulan, terang ibu tiga anak ini.

Penghasilan yang diperoleh Nanik dari usaha yang telah dijalankannya selama 21 tahun itupun terbilang luar biasa. Sampah daun yang disulapnya menjadi produk bernilai tinggi bisa menghasilkan omset hingga Rp 75 juta per bulan. Itu terjadi saat musim pengantin. Rata-rata per bulan, omset yang dihasilkan Nanik sekitar Rp 45 juta. Dalam pengerjaannya, saat ini Nanik dibantu 30 orang karyawannya, yang merupakan ibu-ibu di lingkungannya.

Berbicara soal usahan, tidak hanya hasil manis yang selalu didapat. Nanik mengaku, usahanya pernah mengalami keterpurukan. Di antaranya saat peristiwa Bom Bali 2002 dan Bom Marriott 2009. Kala itu, pelanggannya dari luar negeri mengurungkan niat untuk membeli produknya. Bahkan, kedua peristiwa tersebut membuat hubungannya dengan pelanggan dari negara lain terputus.

Namun demikian, keterpurukan itu tidak membuat Nanik menyerah begitu saja. Sebab, Nanik meyakini, jika dia konsisten dengan usaha yang dijalani maka konsumen akan kembali berdatangan. Asalkan, kualitas produk tetap terjaga dan kreativitas terus diasah, dengan menghasilkan inovasi-inovasi baru.

Nanik juga mencoba cara lainnya, yaitu memanfaatkan teknologi yang ada, dengan membuat website pada sembilan tahun silam. Meski saat itu biaya pembuatan website masih cukup mahal, Nanik tidak mempedulikan, dengan harapan produknya bisa terpromosikan dengan baik. Hasilnya pun lumayan. Pelanggan Nanik, baik yang berasal dari dalam negeri, maupun dari dalam negeri kembali berdatangan.

Dua tahun terakhir, Nanik juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram dan lain sebagainya untuk mempromosikan produknya. Menurut dia, pemanfaatan media berjaringan itu sangat membantu sebagai media promosi. Bahkan, dia menuturkan, pemanfaatan media sosial telah meningkatkan omset sekitar 20-30 persen.

“Jadi kadang anak-anak sekolah, kan lagi digalakan belajar daur ulang, mereka kalau mencari itu (penunjang praktik daur ulang) ke sini. Dari Sidoarjo, dari mana-mana itu. Saya tanya, tahu saya dari mana? Jawabnya dari Facebook, dari Google, ucap Nanik.

Tidak hanya membantu mempromosikan produknya, Nanik menuturkan, media sosial juga sangat membantu untuk mencari bahan baku, saat kekurangan. Bahkan, saat kehabisan ide untuk berkreativitas, bisa mencari-cari model produk di media sosial untuk dijadikan pemancing ide.

Menurut Nanik, keberadaan media sosial sebagai media promosi dan fasilitas dari pemerintah membuat orang yang hendak memulai Industri Kecil Menengah (IKM) saat ini menjadi lebih mudah. Dia menuturkan, khusus di Surabaya, banyak fasilitas yang diberikan pemerintah untuk menunjang pemasaran produk-produk UKM. 

Fasilitas itu di antaraya adalah banyaknya stand yang disediakan pemerintah untuk memasarkan produk-produk IKM. “Sekarang ini betul-betul dimanja sama pemerintahdan dinomorsatukan,” ucap Nanik.