Rabu , 04 October 2017, 12:19 WIB

AS Minta Kuba Kurangi 60 Persen Staf Diplomatik

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Esthi Maharani
AP
Bendera negara Kuba
Bendera negara Kuba

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Pemerintahan Presiden AS Donald Trump akan meminta Kuba untuk mengurangi 60 persen diplomatnya di Kedutaan Besar Kuba di Washington. Langkah ini dilakukan setelah AS memotong jumlah stafnya di Kedutaan Besar AS di Havana dengan jumlah yang sama.

Departemen Luar Negeri AS diperkirakan akan mengumumkan keputusan ini pada Selasa (3/10). Namun beberapa pejabat, mengatakan keputusan itu tidak akan diumumkan ke publik. Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson telah mendiskusikan rencana tersebut pada Senin (2/10) dengan Presiden Trump, kata salah satu pejabat.

Permintaan AS tersebut merupakan kemunduran besar dalam hubungan kedua negara. AS dan Kuba baru saja memperbarui hubungan diplomatik pada 2015, setelah terlibat dalam permusuhan selama setengah abad. AS tengah berusaha melindungi diplomatnya sendiri dari serangan yang telah merugikan setidaknya 21 warga negara Amerika di Havana. Para diplomat mengalami gangguan pendengaran, keseimbangan, dan bahkan penglihatan.

Akan tetapi, sejumlah pejabat pemerintah AS mengatakan pemotongan staf diplomatik Kuba bukan untuk menghukum Havana atas serangan tersebut. AS hanya ingin memastikan kedua negara memiliki jumlah diplomat yang sama. Pada Senin (2/10), The Associated Press melaporkan seorang mata-mata AS termasuk di antara korban yang paling parah terkena dampak serangan. Para diplomat mengaku mendengar suara-suara aneh dan mengalami efek fisik yang lebih aneh lagi.

Pemerintah AS menyadari ada sesuatu yang salah dan menyebut serangan itu sebagai "serangan kesehatan" misterius. Serangan di Kedutaan Besar AS di Havana dimulai beberapa hari setelah Trump memenangkan pemilihan Presiden AS pada November tahun lalu. Sejak itu, AS telah memerintahkan lebih dari separuh staf kedutaannya untuk kembali ke rumah.

Belum ada reaksi langsung dari Kedutaan Besar Kuba di Washington mengenai rencana AS untuk meminta diplomat mereka pergi. Namun dapat dipastikan langkah tersebut akan membawa kembali ketegangan kedua negara setelah mereka berhasil memulihkan hubungan formal dan membuka kembali kedutaan besar di Havana dan Washington.

AS sebelumnya memiliki sekitar 50 diplomat di kedutaan besarnya di Havana. Pengurangan 60 persen akan menyusutkan angka tersebut menjadi sekitar 20 orang. AS pekan lalu juga menyampaikan peringatan yang tidak menyenangkan kepada warga Amerika agar menjauh dari Kuba. Langkah ini bisa memiliki implikasi mendalam bagi industri pariwisata di pulau itu.

Kuba mengecam langkah Amerika itu dan menyebutnya sebagai keputusan yang tergesa-gesa. Kuba menyesalkan bahwa hal itu diambil tanpa hasil penyelidikan yang meyakinkan.