Jumat , 13 October 2017, 21:26 WIB

Sempat Primadona, Kini Harga Semangka Inul Anjlok

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Elba Damhuri
M Agung Rajasa/Antara
Semangka
Semangka

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Buah semangka inul sempat menjadi primadona para petani di Kabupaten Indramayu selama musim kemarau tahun ini. Namun, tingginya produksi semangka yang berbentuk lonjong itu membuat harganya kini menjadi jatuh.
 
Salah seorang petani di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Rusdani menjelaskan, banyak petani di daerahnya yang memilih menanam semangka inul setelah masa panen gadu selesai. Sebagaimana palawija lainnya, tanaman buah semangka juga tidak membutuhkan banyak air seperti halnya padi.
 
"Penanaman semangka setelah padi juga dimaksudkan untuk memutus mata rantai penyebaran hama klowor dan wereng," kata Rusdani kepada Republika, Jumat (13/10).
 
Semangka jenis inul dipilih karena rasanya yang lebih manis dan warna dagingnya yang lebih merah dibandingkan semangka biasa. Karenanya, semangka inul lebih diminati konsumen dibandingkan semangka biasa yang berbentuk bulat.
 
Selain itu, lanjut Rusdani, perawatan tanaman semangka inul juga lebih mudah. Ditambah lagi, selama masa tanam yang mencapai kurang lebih 65 hari, pemanenan semangka inul bisa dilakukan hingga tiga kali.
 
Namun, pilihan petani untuk ramai-ramai menanam semangka inul akhirnya berdampak pada harga jualnya di pasaran. Saat panen raya semangka inul dalam beberapa hari terakhir, harga semangka inul menjadi jatuh.
 
Waktu panen awal pada September lalu, petani semangka inul meraup keuntungan yang lumayan. "Tapi setelah banyak yang panen, harga semangka jadi jatuh," tutur Rusdani.
 
Rusdani menyebutkan, harga semangka inul awalnya mencapai Rp 1.700 per kg di tingkat petani. Modalnya hanya sekitar Rp 1.200 per kg. Saat ini, harganya hanya di kisaran Rp 900 per kg.
 
Penjual semangka inul, Hendro menyatakan semangka inul memang lebih diminati konsumen dibandingkan semangka biasa. Dalam sehari, dia mengaku bisamenjual 20 buah semangka.
 
"Konsumen suka karena rasanya lebih manis dan dagingnya lebih merah," tandas Hendro.