Sabtu , 14 October 2017, 06:21 WIB

Telur Asin Aneka Rasa Tembus Pasar Swalayan di Jatim

Red: Andi Nur Aminah
ROL/Fian Firatmaja
Telur asin bakar
Telur asin bakar

REPUBLIKA.CO.ID, KEDIRI -- Usaha telur asin berbagai rasa yang dibuat oleh Yuli Ruantinah, warga Sidoarjo, Jawa Timur mulai dipasarkan hingga ke beberapa kota di Jatim, termasuk mampu menembus pasar swalayan. Yuli Ruantinah mengatakan usaha ini sudah digeluti sejak 2010, berawal dari ingin lebih mengembangkan nilai jual telur bebek, sehingga tidak hanya di jual dalam bentuk mentah.

"Paman saya punya usaha peternakan bebek. Jumlahnya cukup banyak. Akhirnya kami belajar mengolah telur bebek, berinisiatif membuat telur asin," kata Yuli, di Kediri, Sabtu (14/10).

Pemilik UD Baginda Jaya Sidoarjo ini mengatakan usaha telur asin ini sudah banyak yang menggelutinya. Sehingga ia dengan pamannya berinisiatif mencari terobosan lain mengolah telur asin. Akhirnya, telur asin diolah dengan berbagai cara diberi berbagai rasa.

"Telur asin ini ada berbagai rasa, seperti udang, kepiting, dan ikan salmon. Prosesnya juga beda ada yang diasapi, digoreng, serta menggunakan oven," katanya lagi.

Ia menuturkan, awalnya telur bebek yang terjual hanya sedikit. Namun, setelah lama ternyata penerimaan pelanggan cukup bagus. Saat ini, setiap hari dia mengolah tidak kurang dari 900 butir telur bebek hasil peternakan sendiri.

Dalam mengolah telur, ia dibantu sejumlah tetangga. Telur awalnya diambil dari kandang, dibersihkan lalu diolah. Cara mengolahnya juga menggunakan teknik sederhana, yaitu batu bata yang dicampur dengan garam.

Yuli juga menolak menggunakan teknik pengasinan yang menggunakan air atau suntik. Menurut dia, teknik itu mempengaruhi kualitas rasa telur. Produk yang dihasilkan juga tidak optimal, seperti kuning telur menjadi tidak nampak berminyak dan aromanya pun beda.

"Saya mengolah menggunakan cara tradisional, herbal, dengan batu bata dicampur garam. Untuk mengolah butuh waktu sekitar 10 hari, sehingga menghasilkan telur asin yang masir, kuning telurnya menjadi berminyak dan enak. Saya tidak menggunakan teknik direndam air, sebab kuning telurnya jadi beda," ujarnya pula.

Ia mengatakan, setiap hari tak kurang dari 700 butir telur ludes terjual. Pelanggannya berasal dari berbagai daerah di Jatim, seperti Malang, Jombang, dan sejumlah kota lainnya. Mayoritas pelanggannya adalah pemilik toko oleh-oleh. Omzetnya per tahun bisa mencapai Rp 200 juta.

Ia juga bertambah senang, sebab produknya saat ini sudah mampu menembus pasar swalayan. Beberapa perbaikan terus dilakukannya, salah satunya model pengemasan. Model itu harus dilakukan dengan bagus, sebab jika telur pecah, bisa mempengaruhi kualitas telur. Yuli sangat berminat mengembangkan usahanya ini, dan berharap bisa mengirim hingga seluruh Indonesia.

Saat ini, ia berencana masuk ke industri kue. Kuning telur bebek dikatakan bagus untuk membuat kue. Selain empuk dan tahan lama, kue juga bisa lebih mengembang.

Dia juga berencana mengurus hak paten, tapi masih ada beberapa kendala. Beberapa izin sudah didapatkannya, tapi ternyata pengurusan hak paten juga belum tuntas.

"Saya punya PIRT tapi yang hak paten belum, masih proses pengurusan, tapi ternyata tidak mudah. Padahal, saya ingin usaha ini terus berkembang, bahkan seluruh Indonesia tahu produk ini. Jika bisa, nanti diekspor," katanya berharap.

Ketua Iwaba se-Wilayah Kerja Bank Indonesia Kediri Anita Djoko Raharto mengatakan, pihaknya memang berupaya membuat UMKM lebih maju dan naik kelas. Ia menggandeng sahabat UMKM dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk memberikan sosialisasi terkait dengan UMKM serta pendirian badan hukumnya. Lebih lanjut Anita mengatakan ke depan juga akan dilakukan pendampingan secara intensif guna mengetahui perkembangan usaha mereka.

Sumber : Antara