Senin , 30 Oktober 2017, 23:04 WIB

Nelayan Sabang Terus Merugi Enam Bulan Terakhir

Red: Andri Saubani
EPA/Hotli Simanjuntak
[ilustrasi] Aktivitas nelayan saat bongkar muat hasil tangkapan ikan laut di Pelabuhan Banda Aceh, pada Maret 2016.
[ilustrasi] Aktivitas nelayan saat bongkar muat hasil tangkapan ikan laut di Pelabuhan Banda Aceh, pada Maret 2016.

REPUBLIKA.CO.ID, SABANG -- Panglima Laot (Lembaga Adat Laut) Wilayah Kota Sabang, Provinsi Aceh, Ali Rani mengakui, ketika musim barat melanda perairan paling ujung barat Indonesia, nelayan wilayah tersebut merugi. "Enam bulan terakhir (angin barat) nelayan tradisional merugi, hasil tangkapan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan," kata Panglima Laot Wilayah Sabang Ali Rani di Sabang, Senin (30/10).

Ali menjelaskan, para nelayan kepulauan paling ujung barat Indonesia melaut hingga 20 mil dari lepas pantai Pulau Weh dan biaya operasional yang dikeluarkan mencapai Rp 300 ribu sekali melaut. "Nelayan mencari ikan kecil sampai 20 mil dari lepas pantai dan hasil tangkapannya tidak cukup untuk bahan bahakar minyak (BBM), padahal BBM-nya sudah subsidi," ujarnya.

Kepulauan yang diapit Selat Malaka dan Samudera Hindia hanya ada dua musim yakni timur dan barat. Kemudian memasuki masa pancaroba masyarakat nelayan wilayah tersebut enggan melaut.

"Ini sudah masuk angin timur dan saat peralihan cuaca kondisi di laut tidak stabil, demi keselamatan saya bersama teman lainnya ketika cuaca buruk tidak melaut" kata salah satu nelayan Sabang, Ridwan di TPI Pasiran, Kuta Bawah Timu, Sukajaya, Sabang baru ini.

Ali mengatakan, secara kasat mata masa pancaroba kondisi cuaca di laut lepas bergelombang dan ketinggiannya berkisar 1-1,5 meter, namun di teluk sepintas terlihat tenang. "Kalau kita liat sekilas diteluk tenang, tapi coba dipertahitan pecahan gelombang mengeluarkan buih keputihan, itu tandanya gelombang di laut lepas sedang tinggi," jelasnya.

Nelayan tulen tadi memprakirakan, meskipun sekarang sedang musim timur akan tetapi sesekali cuaca di laut silih berganti. "Ketika pergantian musim ini cuacanya tidak menentu kadang kala cuaca di laut bagus dan bisa saja dalam sekita ada perubahan cuaca yang tidak memungkinkan untuk bertahan dilaut," tutur nelayan tadi.

Sumber : Antara