Rabu , 01 November 2017, 16:18 WIB

Pengungsi Gunung Agung Rayakan Galungan Secara Sederhana

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Andri Saubani
REPUBLIKA/Muthia Ramadhani
Pengungsi bencana erupsi Gunung Agung di Posko GOR Kompyang Sudjana, Denpasar merayakan Galungan secara sederhana, Rabu (1/11).
Pengungsi bencana erupsi Gunung Agung di Posko GOR Kompyang Sudjana, Denpasar merayakan Galungan secara sederhana, Rabu (1/11).

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Umat Hindu Bali merayakan Galungan yang jatuh pada Buda Kliwon Dungulan 1 November 2017. Semua masyarakat merayakan kemenangan dharma melawan adharma, kebaikan melawan keburukan, tak terkecuali masyarakat pengungsi Gunung Agung di posko-posko pengungsian.

Mereka yang tempat tinggalnya masih masuk ke dalam kawasan rawan bencana (KRB) III di radius 6-7,5 kilometer (km) masih bertahan di tempat tinggal sementara, seperti terlihat di Gedung Olah Raga (GOR) Kompyang Sudjana, Kota Denpasar. Sekitar 46 kepala keluarga (KK) terdiri dari 168 jiwa menghuni posko induk di ibu kota Provinsi Bali tersebut.

Relawan Posko GOR Kompyang Sudjana dari Karangasem, Ketut Joe mengatakan, sebanyak 12 KK atau 40 orang mohon izin pulang merayakan Galungan di rumah masing-masing atau rumah kerabat. Namun, sebagian besar mereka berencana kembali ke pengungsian karena merasa masih belum aman meski status Gunung Agung sudah diturunkan dari awas atau level empat ke siaga atau level tiga.

"Pengungsi di GOR Kompyang Sudjana masih lengkap. Sebagian pengungsi pulang sementara untuk merayakan Galungan dan akan kembali ke pengungsian," kata Ketut Joe kepada Republika, Rabu (1/11).

Pengungsi yang bertahan di GOR Kompyang Sudjana pada Rabu pagi melaksanakan sembahyang di padmasana atau tempat sembahyang yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi. Perempuan, laki-laki, orang tua, dewasa, dan anak-anak mengenakan pakaian sederhana namun tetap sopan beribadah dan berdoa bersama.

Sehari sebelum Galungan, pengungsi GOR Kompyang Sudjana bergotong royong mempersiapkan Penampahan Galungan. Penampahan berasal dari kata dasar nampah yang berarti menyembelih. Masyarakat biasanya menyembelih hewan ternak, mulai dari ayam, bebek, dan babi, kemudian memasaknya bersama-sama.

Hidangan yang disiapkan tersebut dinikmati bersama keesokan harinya pada saat Galungan. Lawar menjadi masakan wajib yang melengkapi perayaan upacara keagamaan tersebut.

Makna filosofis dari penampahan adalah membersihkan sikap-sikap hewani dalam diri manusia, seperti rajas, yaitu sifat serakah dan ceroboh yang ditunjukkan ayam. Makan bersama mempererat kekeluargaan dan kebersamaan sesama umat beragama Hindu.

Pengungsi Posko GOR Kompyang Sudjana sebagian pulang menggunakan kendaraan pribadi, berupa mobil atau sepeda motor. Sebagian lainnya dipulangkan dengan bantuan transportasi Tim Taruna Siaga Bencana (Tagana).
"Pengungsi yang pulang kampung tidak ada unsur paksaan. Mereka mayoritas pulang secara sukarela," kata Ketut Joe.

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika memilih mengunjungi sejumlah masyarakat miskin saat Penampahan Galungan. Mantan Kapolda Bali itu menyerahkan bantuan sembako dan sejumlah uang, khususnya untuk para lansia.
"Galungan tahun ini menggugah kembali rasa persaudaraaan kita, menyama braya, semeton saling berbagi," kata Pastika.

Orang nomor satu di Bali itu mengajak masyarakat Bali untuk memberi perhatian lebih saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan. Sekitar tiga ribu pengungsi di GOR Swecapura sudah meninggalkan posko dan kembali ke desa yang dinyatakan aman di KRB I dan II. Kepulangan mereka difasilitasi sejumlah truk dan bus.