Jumat , 03 November 2017, 10:33 WIB

Salah Satu PAD Terbesar Jatim dari Pajak Kendaraan Bermotor

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Andri Saubani
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Sejumlah mobil dipamerkan pada Pameran Otomotif Surabaya 2017 di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (1/11).
Sejumlah mobil dipamerkan pada Pameran Otomotif Surabaya 2017 di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (1/11).

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim M Ardi Prasetyawan mengungkapkan, pendapatan asli daerah (PAD) Jatim paling besar salah satunya diperoleh dari kendaraan bermotor baik roda dua ataupun roda empat. Pemasukan yang dimaksud berasal dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan  Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).

"Jadi jika penjualan kendaraan bermotor meningkat, otomatis akan meningkatkan PAD, karena para pembeli baru dipastikan akan mengurus BBNKB dan PKB juga membayar pajak. Pajak inilah yang menjadi masukan PAD Jawa Timur," kata Ardi saat meninjau Pameran Otomotif Surabaya 2017 di Grand City Surabaya, Jumat (3/11).

Ardi melanjutkan, itu mengapa pemerintah Provinsi Jatim mendukung penuh adanya pameran otomotif yang digelar di Jawa Timur. Sebab, jika penjualan kendaraan turun maka otomatis PAD Jatim dari sektor pajak juga akan turun. "Maka adanya promosi pameran otomotif ini akan dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap kenaikan pendapatan daerah," ujar Ardi.

Ardi menjelaskan, penjualan mobil di Jawa Timur periode Januari-September 2017 sebanyak 96.916 unit, atau naik 4,80 persen dibandingkan periode yang sama pada 2016 yang hanya sebesar 92.461 unit. Adapun jenis mobil low cost green car (LCGC) mencatatkan pertumbuhan penjualan yang sangat tinggi. Yakni 32,41 persen, dari 18.058 unit pada 2016 meningkat menjadi 23.911 unit pada 2017.

"Animo masyarakat pada 2017 ini banyak membeli mobil dengan CC 1000 atau mobil kecil jenis LCGC sehingga penjualan kendaraan roda dua atau sepeda motor turun," kata Ardi.

Ardi kemudian berharap adanya pengembangan industri otomotif di Indonesia. Sebab, pengembangan industri otomotif diyakininya akan meningkatkan integrasi sekaligus kedaulatan nasional, dengan kemampuan memproduksi sendiri komponen yang dikerjakan produksi lokal.

Ardi meyakini, jika itu bisa dilakukan, maka akan berdampak pada kemandirian ekonomi. Sebab, industri otomotif dari hulu ke hilir cukup banyak menyerap tenaga kerja. Selain menyerap tenaga kerja banyak, industri ini juga akan bisa transfer alih teknologi dan yang terpenting bisa mendorong meningkatkan pertumbuhan ekonomi.