Selasa , 07 November 2017, 17:49 WIB

In Picture: Minim Sarana Pendidikan, Air, dan Listrik

Rep: Eric Iskandarsjah Z/ Red: Mohamad Amin Madani
Masyarakat di Desa Tliu, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga saat ini masih kekurangan akses akan fasilitas pendidikan, air dan listrik.

REPUBLIKA.CO.ID, TIMOR TENGAH SELATAN -- Masyarakat di Desa Tliu, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga saat ini masih kekurangan akses akan fasilitas pendidikan, air dan listrik. Melihat kondisi itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sejak tiga tahun lalu mulai memberikan bantuan di ketiga bidang tersebut.

Sembari menunggu aktivasi jaringan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN), yang kemungkinan mulai dapat dinikmati masyarakat setempat di tahun depan, beberapa rumah sementara ini mendapat penerangan berkat solar panel. Saat ini, baru sekitar 90 rumah yang telah terdapat solar panel, padahal, desa itu terdiri dari sekitar 200 rumah.

Solar panel itu sendiri merupakan bantuan dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui LazisMu. Pada Senin (6/11), PP Muhammadiyah juga melakukan pencanangan Gerakan Tutup Bumi dan peresmian SD Muhmmadiyah Tliu yang juga dihadiri oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Gerakan Tutup Bumi itu merupakan gerakan reboisasi atau penghijauan dengan menanam beberapa jenis pohon seperti Trembesi dan Mahoni. Langkah ini merupakan program jangka menengah dari  Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dalam mengentaskan persoalan kekeringan di NTT. Sedangkan SD yang diresmikan itu merupakan program dari MPM dalam memberikan sarana pendidikan di Desa Tliu.

Sebelum ada SD ini, masyarakat setempat yang mayoritas merupakan masyarakat asli Timor ini harus menempuh jarak tujuh hingga sepuluh kilometer untuk menjangkau fasilitas pendidikan SD terdekat.

Berita Terkait