Selasa , 14 November 2017, 22:00 WIB

Puncak Banjir di Kabupaten Bandung pada Desember-Januari

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Bayu Hermawan
Antara/Novrian Arbi
Warga melintasi banjir di kawasan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (13/11).
Warga melintasi banjir di kawasan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (13/11).

REPUBLIKA.CO.ID, BALEENDAH -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung mengungkapkan puncak banjir di  beberapa wilayah seperti Baleendah, Bojongsoang dan Dayeuhkolot diprediksi akan terjadi pada Desember dan awal Januari 2018 mendatang. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Bandung telah menetapkan status siaga darurat bencana banjir.

"Puncak banjir pada Desember 2017 hingga 2018 mendatang. Memang masih lama, kita siagakan petugas tidak hanya di lokasi banjir. Tapi juga di beberapa titik rawan bencana lainnya," ujar Kepala Seksi Kedaruratan BPBD, Kabupaten Bandung, Toni Suryana, Selasa (14/11).

Menurutnya, status siaga darurat bencan banjir, longsor dan angin puting beliung diberlakukan sejak 2 November 2017 hingga 31 Mei 2018. Keputusan tersebut diambil oleh Bupati Bandung, Dadang M Naser berdasarkan evaluasi dari BMKG dan laporan dari BPBD Provinsi.

"Sekarang (cuaca) tidak bisa diprediksi, kadang ramalan cuaca diprediksi berawan, ternyata hujan," ujarnya. Katanya, BPBD terus menyiagakan personel sejak pagi untuk mengangkut warga yang hendak sekolah dan bekerja dengan menggunakan perahu.

Ia menuturkan, saat ini jumlah pengungsi akibat banjir luapan Sungai Citarum,  banyak menghuni di GOR Inkanas dengan jumlah 70 KK, 231 jiwa berikut 32 lansia dan 18 balita. Kemudian ditambah dengan pengungsi di SKB, Shelter BN dan GOR Kelurahan Baleendah sehingga total pengungsi mencapai 361 jiwa.

Sementara itu, di Dayeuhkolot jumlah pengungsi mencapai 77 KK dengan jumlah pengungsi 250 jiwa, 36 lansia dan 31 balita. "Jumlah pengungsi fluktuasi. Jika air surut mereka kembali ke rumah namun jika naik kembali ke pengungsian," katanya.

Sementara itu, salah seorang pengungsi yang tetap bertahan di pengungsian, Dedi Supriadi (27), warga RT 06/09 Kampung Cigosol, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung mengaku sudah berada di pengungsian sejak Kamis (9/11). Saat itu ketinggian banjir mencapai betis dan saat ini sudah mencapao 1,5 meter.

Menurutnya, sesekali ia kembali ke rumah untuk mengecek keadaan. Karena sebagian barangnya disimpan di loteng miliknya. Namun aktivitas seperti itu membuat dirinya jadi mudah terkena sakit yaitu meriang.

Salah seorang korban banjir di Kampung Bojong Asih, Desa Dayeuhkolot, Saefuloh (43) yang juga sebagai koordinator relawan Kampung Siaga Bencana menuturkan dirinya lebih memilih tidak mengungsi ke aula Desa Dayeuhkolot. Sebab, meski ketinggian air di rumahnya mencapai 1,5 meter. Dirinya masih bisa menggunakan lantai dua rumah miliknya tersebut.

"Biasanya, saya, istri dan anak siang hari lebih banyak di aula desa. Jelang sore ke malam kembali ke rumah menggunakan perahu. Untuk masak di lantai dua dan untuk mandi atau mengambil air bersih di aula desa," ungkapnya.

Menurutnya, jika kebutuhan sehari-hari seperti gas habis atau untuk makanan habis maka ia keluar dari rumah menggunakan perahu hingga ke lokasi yang tidak ada banjir. Kemudian pergi ke pasar mencari kebutuhan keperluan sehari-hari.

Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bandung menjamin ketersediaan pasokan logistik untuk para pengungsi yang  terdampak banjir luapan Sungai Citarum. Kepala Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Dinsos, Yusran Razak, mengatakan jumlah pasokan logistik yang diberikan akan disesuaikan dengan jumlah jiwa di lokasi pengungsian.