Kamis , 07 Desember 2017, 16:34 WIB

TransJogja Harus Buat Program Khusus untuk Tarik Penumpang

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Yusuf Assidiq
Yusuf Assidiq
Bus TransJogja.
Bus TransJogja.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Manajemen TransJogja diminta memperperbaiki pelayanan terutama jarak antara satu bus dengan bus berikutnya tidak terlalu lama. Untuk itu, harus menambah armada bus dan jumlah halte. Sehingga penumpang yang turun tidak terlalu jauh dari lokasi yang dituju.

Hal itu disampaikan anggota Komisi C DPRD DIY  Chang Wendryanto, Kamis (7/12). Hal ini terkait dengan semakin menurunnya jumlah penumpang TransJogja yang juga berakibat pada menurunnya pendapatan.

Selama ini, kata Chang, masih ada pelayanan TransJogja yang perlu dibenahi. Di antaranya, jam keberangkatan yang tidak tepat, atau sopirnya masih ada yang 'ngeblong' di lampu merah sehingga orangtua takut naik TransJogja.

Karena itu, sarannya, jam kedatangan TransJogja harus diperbanyak, jarak antara satu halte dengan lainnya tidak terlalu jauh karena berakibat memakan waktu yang lama. Ia memberi contoh, halte bus TransJogja di Malioboro yang di daerah Pajeksan tidak ada, sehingga jika penumpang berjalan dari halte bus ke Pajeksan memakan waktu yang lama.

Mengenai berkurangnya pendapatan TransJogja di tahun ini sekitar Rp 3 miliar sebagaimana dikatakan Kepala UPT TansJogja Dinas Perhubungan DIY Sumariyoto, menurut Chang, perlu dikaji lagi.

Lebih lanjut mengenai wacana adanya jalur khusus untuk TansJogja juga perlu dikaji ulang. Hal itu apakah memungkinkan. "Apabila di Malioboro diberi jalur khusus nanti makin menambah kemacetan karena Malioboro jalannya sempit, atau dibuat jalur khusus di persimpangan khusus TransJoga, itu perlu dikaji lebih mendalam," sarannya.

Demikian pula apakah aparat benar-benar dapat menegakkan aturan. "Jangan seperti di Jakarta, jalur TransJakarta dipakai untuk angkutan umum yang lain. Kalau aturan belum bisa ditegakkan oleh aparat,  tidak usah dibangun jalur khusus. Karena nanti malah akan menghabiskan biaya dan menambah semrawut,’’ kata Chang, menegaskan.

Menurutnya lagi, adanya angkutan umum berbasis online tidak bisa dipungkiri dan dilarang karena sesuai dengan kemajuan zaman. Untuk menarik penumpang, maka TransJogja harus membuat terobosan agar penumpang tertarik untuk naik TransJogja, misalnya dengan kupon berhadiah, dan lain-lain