Senin , 11 Desember 2017, 15:38 WIB

Soal Insiden di Bali, Ustaz Somad: Cukup Saya Saja

Rep: Lida Puspaningtyas / Red: Karta Raharja Ucu
Humas RZ
Ustaz Abdul Somad dalam halal bi halal di SMP Juara Pekanbaru.
Ustaz Abdul Somad dalam halal bi halal di SMP Juara Pekanbaru.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Ustaz Abdul Somad yang mengalami perlakuan tidak menyenangkan saat hendak mengisi Tabligh Akbar di Bali sempat melakukan klarifikasi. Dalam tayangan live di Facebook ia menyampaikan beberapa poin singkat.

Kepada Republika.co.id, Senin (11/12), Kuasa Hukum Ustaz Abdul Somad, Muhammad Kapitra Ampera menyampaikan live klarifikasi itu disampaikan di Pekan Baru. Ia mendampingi Ustaz Abdul Somad bersama dengan Masyarakat Adat Melayu Riau.
 
"Cukup saya saja yang mengalami ini, yang pertama dan terakhir," kata Ustaz Abdul Somad. Karena itu, kasus harus ditindak dan dilaporkan agar tidak ada lagi kejadian serupa.
 
Ia yakin insiden kemarin adalah ulah orang-orang tidak bertanggung jawab. Pasalnya tidak mungkin orang Hindu Bali mencederai hubungan Hindu-Islam yang sudah harmonis sejak 800 tahun silam.
 
Ustaz Abdul Somad mengatakan tidak ingin didikte oleh orang-orang yang menuduhnya tidak cinta NKRI. "Legalitas mereka apa meminta saya berikrar di depan mereka? Mencium bendera, sebutkan Pancasila, mereka itu siapa? Saya tidak mau didikte oleh preman nasi bungkus," kata Ustaz Abdul Somad.
 
Ia meminta pemerintah untuk hadir dalam menjaga agama. Menurutnya, kasus ini adalah pukulan berat kepada negeri Indonesia. Ulama datang untuk menyampaikan kata-kata hikmah, menjenguk saudara Muslim tapi ada orang tidak bertanggung jawab yang tidak suka.
 
"Ini hanya sekelompok orang, tidak bertanggung jawab, padahal Tablig Akbar tidak ada masalah," katanya. Saat insiden terjadi Ustaz Somad pun menerima perkataan-perkataan kasar. Seperti "dasar PKI, bangsat". Pelaku bahkan mencabut pisau di depannya.
 
Pada akhirnya, ia meminta agar semua pihak mau mengambil hikmah. Agar masyarakat tetap menjaga kebersamaan. Komunitas Muslim diminta agar menjaga hubungan baik secara intern maupun ekstern. "Kita bangsa yang besar, jadi harus mengambil pelajaran," katanya.