Selasa, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 Februari 2018

Selasa, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 Februari 2018

Kala Lonewolf Coba Rusak Citra Sleman yang Toleran

Rabu 14 Februari 2018 06:01 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Andri Saubani

Petugas kepolisian melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kasus penyerangan di Gereja Katholik St. Lidwina, Jambon, Trihanggo, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, Ahad (11/2).

Petugas kepolisian melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kasus penyerangan di Gereja Katholik St. Lidwina, Jambon, Trihanggo, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, Ahad (11/2).

Foto: Antara
Hubungan umat beragama di Kabupaten Sleman memang baik-baik saja.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Insiden penyerangan Gereja Santa Lidwina memang telah menimbulkan kekhawatiran di tengah-tengah masyarakat. Karenanya, masyarakat Kabupaten Sleman khususnya dan DIY umumnya dituntut dapat mendinginkan kepala, tidak malah mengamini usaha-usaha membuat suasana seolah intoleran.

Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), termasuk Kabupaten Sleman, dikenal sebagai salah satu yang paling ramah di Indonesia. Hal itu membuat orang-orang dari daerah lain maupun mancanegara begitu nyaman berwisata ke DIY.

Suasana kekerabatan yang ada dari hampir semua sudut begitu tersohor, membuat siapa saja yang pernah menginjakkan kaki selalu merindu untuk kembali. Harta mewah tersebut rasanya tengah coba dikoyak-koyak melalui kesan intoleran.

Tahun lalu, masyarakat Indonesia sempat dihebohkan melalui hasil penelitian satu lembaga riset, yang menempatkan DI Yogyakarta sebagai salah satu kota intoleran. Sejumlah sebab musabab dipaparkan lembaga tersebut, salah satunya soal pelarangan kegiatan keagamaan.

Akhir tahun lalu, Republika sempat meminta Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menanggapi hasil riset tersebut. Ditemui di dalam Pagelaran Kraton Ngayogyakarta, Sultan mengaku ragu akan hasil riset sekaligus lembaga riset tersebut.

"Saya tidak tahu, saya juga tidak tahu itu lembaga apa yang bicara," kata Sultan yang ditemui usai Peringatan Milad PP Muhammadiyah ke-108 tahun, (18/11) lalu.

Insiden di Gereja Santa Lidwina seakan mencoba mengungkit itu lagi. Padahal, Kapolda DIY, Brigadir Jenderal Polisi Ahmad Dhofiri sudah menegaskan, jika pelaku bukanlah orang DIY, berasal dari Banyuwangi dan baru 4-5 hari berada di DIY.

Sejak hari kejadian, sebenarnya bisa dilihat begitu tolerannya masyarakat DIY, khususnya Sleman. Bahkan, pelaku, yang diduga beraksi seorang diri (lonewolf), berhasil dilumpuhkan berkat kerja sama jemaat, masyarakat sekitar dan petugas kepolisian.

Aiptu Almunir, bersama dua rekannya, menjadi sosok penting dilumpuhkannya pelaku serangan, usai melukai sejumlah jemaat, termasuk Romo Edmund Prier. Mengesampingkan latar belakang, ras, suku maupun agama, Almunir melumpuhkan pelaku walau harus turut terluka.

Tidak kurang empat jahitan di lengan kiri serta satu luka tambahan di kelingking kiri kaki harus diderita Almunir. Ini jadi bukti tambahan yang menunjukkan begitu tolerannya Sleman, maupun DIY secara luas.

"Karena satu kita melaksanakan tugas Kepolisian, kedua, masalahnya sudah menyangkut jiwa orang lain," ujar Almunir saat ditemui di Polda DIY, Senin (12/2).

Mantan ketua umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif, menjadi salah satu tokoh agama di luar Gereja Santa Lidwina yang pertama datang memberikan dukungan moril. Setelah itu, berbagai elemen masyarakat datang turut memberikan dukungan serupa.

Berturut-turut, Bupati Sleman Sri Purnomo, Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto, Kakanwil Kemenag DIY Muhammad Lutfi Hamid, mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi. Apalagi, termakan isu-isu yang berpotensi mengadu domba.

Pesan itu kembali ditegaskan Kapolda DIY, yang menangkis ada spekulasi-spekulasi terkait asal pelaku, mengingat penyelidikan saja baru dilakukan. Ia turut mengimbau masyarakat agar sabar, tidak termakan isu-isu di media sosial.

Senada, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY, KH Thoha Abdurrahman mengimbau, agar umat beragama mampu mengamalkan ajaran agama dan nasionalismenya. Ia turut mengajak masyarakat, khususnya DIY, untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

"Kita harus bersatu dan rukun, jangan kita berindak semaunya sendiri," kata Thoha.

Hari ini, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sleman menggelar bersih-bersih di Gereja Santa Lidwina. FKUB terdiri dari tokoh-tokoh agama, ormas-ormas keagamaan dan masyarakat sekitar.

Langkah ini kembali menegaskan jika hubungan umat beragama di Kabupaten Sleman memang baik-baik saja. Ketua Gereja Santa Lidwina, Soekatno mengatakan, kegiatan bersih-bersih diikuti kurang lebih 120 orang dar berbagai elemen masyarakat dan ormas-ormas keagamaan.

"Dengan adanya kebersamaan ini, umat merasa nyaman dan menunjukkan bahwa kami tidak sendiri," ujar Soekatno, Selasa (13/2) pagi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES