Thursday, 10 Sya'ban 1439 / 26 April 2018

Thursday, 10 Sya'ban 1439 / 26 April 2018

Penataan Kawasan Geopark Ciletuh Butuh Rp 1 Triliun

Selasa 17 April 2018 01:58 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Nur Aini

Puncak Darma di kawasan Geopark Ciletuh.

Puncak Darma di kawasan Geopark Ciletuh.

Foto: Republika/Edi Yusuf
Ciletuh Ditetapkan UNESCO sebagai geopark dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Geopark Ciletuh-Palabuhanratu resmi ditetapkan menjadi bagian dari jaringan geopark dunia atau UNESCO Global Geopark (UGG). Menurut Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, hal itu merupakan sejarah baru bagi dunia pariwisata di Jawa Barat. Ia menilai, untuk menata dan mengembangkan kawasan geopark itu dibutuhkan anggaran Rp 1 triliun.

Ahmad Heryawan berharap, pemerintah pusat bisa memberikan anggaran Rp 1 triliun.

"Kawasan geopark ini akan semakin berkembang jika suntikan dananya cukup besar. Katakan saja Rp 1 triliun, berinvestasi lewat anggaran negara dengan uang sebesar itu tidak terlalu besar dibanding manfaat yang lebih besar dari itu," ujar Ahmad Heryawan yang akrab disapa Aher kepada wartawan di Gedung Sate, Senin (16/4).

Aher menjelaskan, untuk infrastruktur jalan penghubung Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Pemprov Jawa Barat sudah menggelontorkan anggaran Rp 96 miliar pada 2016. Hal itu yakni membangun ruas jalan dari pintu masuk Waluran ke geopark. Selain itu, pada 2017 dibangun juga ruas jalan dari pintu masuk Loji ke geopark yang menelan anggaran Rp 217 Miliar.

"Tahun ini kita membuat kawasan jalan dari arah pintu masuk Paltiga sebesar Rp 90 Miliar," katanya.

Menurut Aher, di Geopark Ciletuh harus dilengkapi juga sarana dan prasarananya. Salah satunya, harus dilengkapi dengan toilet. Keberadaan toilet itu penting karena kalau banyak dikunjungi oleh wisatawan harus ada toilet yang memadainya.

"Luas kawasan Geopark Ciletuh ini sekitar 148 ribu hektare kawasannya. Lahan ada yang milih pemerintah dan masyarakat tapi kan tak harus dibebaskan," katanya.

Selain itu, menurut Aher, Pemprov Jabar juga membangunan bandara di Sukabumi. Hal itu karena, salah satu syarat geopark internasional itu, harus ada bandara dekat geopark dengan jarak tempuh maksimal tiga jam perjalanan.

Aher mengatakan, proses penetapan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu menjadi jaringan geopark global Unesco (UGG) terbilang cepat. Biasanya proses yang ditempuh sepuluh tahun setelah penetapan geopark nasional. "Tiga tahun lalu kita (Geopark Ciletuh-Palabuhanratu) ditetapkan sebagai Geopark Nasional oleh Pemerintah Pusat dan langsung kita ajukan ke UNESCO sebagai UGG dan ternyata, Alhamdulillah diterima," kata Aher.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES