Senin, 6 Ramadhan 1439 / 21 Mei 2018

Senin, 6 Ramadhan 1439 / 21 Mei 2018

Ini Tantangan Produk Pertanian Indonesia

Sabtu 21 April 2018 20:41 WIB

Rep: Irwan Kelana/ Red: Agung Sasongko

Seminar Nasional yang bertajuk “Perdagangan Internasional Produk Pertanian:  Peluang dan Tantangan”.

Seminar Nasional yang bertajuk “Perdagangan Internasional Produk Pertanian: Peluang dan Tantangan”.

Foto: istimewa
Selama 15 tahun terakhir sektor pertanian alami perubahan drastis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Kementerian Perdagangan RI, Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dan Institute for Development of Economic & Finance (INDEF) mengadakan Seminar Nasional yang bertajuk “Perdagangan Internasional Produk Pertanian:  Peluang dan Tantangan”.

Dalam siaran pers yang diterima, Sabtu (21/4), Kegiatan yang dihadiri lebih dari seratus pakar dan praktisi ekonomi ini digelar di IPB International Convention Center  (IICC)  Bogor, Kamis (12/4). Seminar ini menghadirkan para peneliti di bidang ekonomi dengan hasil riset terbarunya di bidang perdagangan serta pemaparan materi lewat video conference dari Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2004-2011, Prof. Mari Elka Pengestu.

Dalam kata sambutannya, Rektor IPB, Dr. Arif Satria menyampaikan bahwa saat ini masyarakat dunia telah memasuki fase Industry 4.0 yang mana telah banyak aspek kehidupan bergantung dari drone, ilmu komputer dan artificial intelegence.

“Saat ini makan tidak hanya tentang kenyang, tapi juga experience. Hal yang perlu dipikirkan ialah mencermati perkembangan yang ada dan dampaknya untuk pertanian Indonesia. IPB hadir dengan visi untuk menghasilkan sociopreneur dan technopreneur. Kalau Thailand bisa membawa jargon kitchen of the world, kita juga bisa mengatakan bahwa Indonesia akan feed the world,” ujarnya sebelum memukul  gong tanda resmi seminar dibuka.

 

Dalam penyampaiannya, Prof. Mari memaparkan fakta terkait kondisi perdagangan dalam kurun 15 tahun terakhir, sektor pertanian dan perdagangan mengalami perubahan yang sangat drastis. Produk-produk pertanian lebih banyak beredar dalam bentuk olahan, tidak lagi dalam bentuk mentah.

Terkait tantangan, ia menyatakan, “Kendala tanah dan air berbeda antar negara. Cuaca yang ekstrim juga menjadi hambatan dari produksi produk-produk pertanian. Kalau dilihat dari demand side, akan ada pertumbuhan penduduk dunia menjadi sembilan miliar, jumlah konsumen meningkat pesat. Konsumen juga akan menuntut produk yang lebih sehat, berkualitas dan produksi yang sustainable. Inilah yang bisa kita jadikan acuan bahwa kita perlu melek teknologi untuk menjawab tantangan-tangangan ini,”ujarnya.

 

Pembicara lainnya yaitu Kepala Pusat Kerja Sama Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan, Ir. Sri Nastiti Budianti menyampaikan bahwa subsidi ekspor harus dihapuskan karena mengakibatkan biaya  perdagangan internasional tidak sesuai dengan harga yang seharusnya, khususnya di negara berkembang agar tercipta keadilan. 

 

“Kita harus punya lulusan-lulusan yang adaptif berbagai perkembangan yang ada. Pola yang harus dikembangkan harus mampu menjawab  pertanyaan terkait inequality, polarization, poverty and misery. Lulusan perguruan tinggi kita harus mampu dalam hard skill dan soft skill,” kata Prof. Dr. Hermanto Siregar, Ketua Umum PERHEPI yang juga Guru Besar Ekonomi Pertanian IPB.

 

Pemaparan hasil penelitian di bidang ekonomi ini dibagi menjadi dua sesi yang tiap sesinya menarik untuk disimak, sangat banyak sudut pandang yang digali baik dalam hal kebijakan ekspor-impor, industri secara umum, kelapa sawit, peternakan dan lain-lain. 

 

Tampak hadir Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan RI, Dr. Ir. Kasan, M.M. dan Wakil Menteri Perdagangan RI 2011-2014, Dr. Bayu Krisnamurthi

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES