Minggu, 12 Ramadhan 1439 / 27 Mei 2018

Minggu, 12 Ramadhan 1439 / 27 Mei 2018

Kota Bandung Cari Ikon Khas

Kamis 17 Mei 2018 11:57 WIB

Rep: Zuli Istiqomah/ Red: Esthi Maharani

Gedung Merdeka, gedung bersejarah tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika (KAA), di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung.

Gedung Merdeka, gedung bersejarah tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika (KAA), di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung.

Foto: Republika/Edi Yusuf
Kota Bandung masih belum memiliki ikon utama yang bisa merepresentasikan kota.

REPUBLIKA.CO.ID,  BANDUNG -- Kota Bandung menjadi salah satu tujuan wisata yang digemari wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Namun dengan kunjungan sekitar 6,9 juta wisatawan, Kota Bandung masih belum memiliki ikon utama yang bisa merepresentasikan kota.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) mencoba mengkaji untuk menetapkan ikon yang bisa menjadi ciri khas kota kembang ini. Dalam pengkajian inj, Disbudpar Kota Bandung mengajak sejumlah pakar.

"Pengkajian sudah kami mulai melalui Focus Group Discussion (FGD), para pakar budaya, desain, linguistik, dan lain-lain berkumpul dan membahas ikon kota Bandung," kata Kepala Disbudpar Kota Bandung KennyDewi Kaniasari seperti dalam siaran pers yang diterima Republika baru-baru ini.

Ia mengatakan dengan adanya ikon khas maka akan menambah daya tarik Kota Bandung. Ia mencontohkan kota-kota terkenal di dunia yang memiliki ikon khasnya serti Kota Paris yang terkenal dengan Menara Eiffelnya, Sydney dengan Opera Housenya.

"Bandung perlu hal itu untuk menjadi daya tarik utama. Dampaknya bisa untuk para pengrajin souvenir," ujarnya.

Pakar sejarah Universitas Padjadjaran, Reiza D. Dienaputra mengungkapkan, para pakar telah merumuskan empat indikator untuk menentukan ikon Kota Bandung. Salah satunya adalah adanya representasi sejarah Kota Bandung dalam objek tersebut.

Selain harus memiliki sejarah, indikator lainnya adalah memiliki keunikan yang tidak ada di tempat lain. Objek itu juga harus menimbulkan kebanggaan lintas generasi, yang semua orang bangga terhadap hal itu. "Indikator keempat adalah memiliki spirit kejuangan," tutur Reiza.

Berdasarkan indikator tersebut, terpilihlah lima kandidat ikon Kota Bandung yang masuk ke dalam tahap finalisasi. Kelima objek tersebut adalah Gedung Sate, Gedung Merdeka, Jembatan Pasopati, Monumen Bandung Lautan Api, dan Bandung Creative Hub.

Kelima objek tersebut juga dikaji dari sisi linguistik. Pakar dari Universitas Padjadjaran Susi Yulianti mengatakan Gedung Sate paling populer dan tingkat kemunculannya paling tinggi. Kedua adalah Gedung Merdeka, disusul Jembatan Pasopati. Sementara itu di Leipzig, Gedung Merdeka jauh lebih tinggi dari Gedung Sate.

"Di Leipzig, kata Gedung Merdeka ada 66.000 kali kemunculan. Sedangkan Gedung Sate hanya 2.500 kali kemunculan," kata Susi.

Tak hanya soal ikon, Disbudpar Kota Bandung juga mengaji cenderamata utama Kota Bandung. Tim yang sama menentukan empat indikator, yaitu adanya representasi kebudayaan daerah, memiliki keunikan, memberikan kebanggaan. Indikator lainnya yaitu dinamik bagi terjadi pemutakhiran sehingga mengikuti arus utama dari budaya pop.

Berdasarkan indikator tersebut, terpilihlah 10 kandidat cenderamata khas Kota Bandung yang dianggap paling memenuhi kriteria. Kesepuluh cenderamata itu adalah Gedung Sate, Gedung Merdeka, Monumen Bandung Lautan Api, Jembatan Pasopati, Gelora Bandung Lautan Api, tari jaipong, karinding, kujang, peuyeum, dan batagor.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES