Senin , 20 Maret 2017, 06:23 WIB

Pengamat: Parpol Harus Tegas Soal Kasus KTP-El

Rep: Ali Mansur/ Red: Bayu Hermawan
dok. Republika
Ilustrasi KTP elektronik (e-KTP)
Ilustrasi KTP elektronik (e-KTP)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat komunikasi politik dari Universitas Brawijaya, Anang Sudjoko mengatakan kasus korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP-el) dapat berdampak buruk bagi Partai Politik (Parpol). Mengingat sejumlah anggota Parpol diduga terlibat menerima uang haram dari proyek tersebut.

Menurut Anang, Parpol harus bertindak tegas terhadap anggotanya yang terbukti terlibat. Itu apabila tidak ingin elektabilitas Parpol pada Pemilihan Umum (Pemilu) terganggu. "Harus bertindak tegas dengan mencopot sebagai kader. Kemudian kedisiplinan juga harus tegas," jelas Anang, saat dihubungi Ahad (19/3).

Anang melanjutkan, meskipun saat ini belum ada tindakan tegas dari Parpol terhadap anggotanya yang diduga terlibat, karena memang masih terduga. Namun, apabila nanti sudah ada keputusan inkrah, maka Parpol dapat dipastikan mempertimbangkan pencopotan kadernya tersebut. Anang mengatakan, karena masih terduga maka Parpol hanya perlu untuk menonaktifkan dan segera mengeluarkan tindakan korektif partai secara internal.

Disamping itu, kata Anang, Media Massa juga memiliki peran dalam menjaga elektabilitas partai-partai agar  masyarakat masih menyimpan kepercayaan kepada Parpol. Sebab menurut Anang, rakyat Indonesia sudah banyak mengandalkan media massa baik konvensional maupun media online dan juga Media Sosial (Medsos).  Kemudian sejauh mana media tersebut  menjadi jejaring dalam melakukan perannya sebagai watchdog.

"Kalau peran dan dilakukan dengan baik, maka bisa mempengaruhi elektabilitas partai," katanya.

Meski demikian, Anang mengatakan tidak semua pandangan masyarakat terhadap terpengaruh dengan kasus KTP-el tersebut. Apalagi bagi  konstituen yang sudah loyal tidak akan mudah berubah pilihan meski ada pengaruh pada penilaian. Hanya saja namun bagi yang floating masih bisa antipati. 

"Jika media berperan, maka opini yang terus menerus akan bisa menyeleksi siapa yang loyal dan rasional," ucapnya.