Sabtu , 22 April 2017, 00:56 WIB

Kembangkan Kasus KTP-El, KPK Mendadak Periksa Johanes Richard Tanjaya

Rep: Umar Mukhtar / Red: Reiny Dwinanda
Republika/ Wihdan Hidayat
Tersangka kasus korupsi penerapan KTP Elektronik (e-KTP) Andi Narogong usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (4/4).
Tersangka kasus korupsi penerapan KTP Elektronik (e-KTP) Andi Narogong usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (4/4).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah menyatakan Direktur PT Java Trade Utama Johanes Richard Tanjaya telah diperiksa penyidik KPK untuk tersangka kasus KTP-El Andi Narogong. Pemeriksaan berlangsung pada Kamis (20/4) di gedung KPK. 

"Ada kebutuhan pemeriksaan untuk kasus dengan tersangka AA (Andi Narogong)," ungkap Febri di kantor KPK, Jumat (21/4). 

Febri mengakui pemeriksaan tersebut terbilang mendadak, yakni selepas Johanes menjadi saksi pada sidang kasus KTP-El di PN Tipikor Jakarta. Tepat sebelum sidang dipotong oleh Majelis Hakim untuk waktu istirahat siang, Johanes sempat mengabarkan Ketua DPR RI Setya Novanto memiliki jatah tujuh persen dari keuntungan proyek KTP-El. 

Setelah itu, sidang diistirahatkan dan dilanjutkan kembali pada sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu, jaksa penuntut umum (JPU) kasus KTP-El  tidak mendalami kesaksian Johanes tersebut. 

Usai menyampaikan kesaksian di persidangan, Johanes langsung dibawa ke KPK untuk dimintai keterangan oleh penyidik. Febri menjelaskan informasi yang disampaikan Johanes di persidangan dibutuhkan detailnya untuk pengembangan kasus. 

Febri memaparkan pelaksanaan sidang KTP-El berlangsung paralel, baik proses penyidikan maupun untuk pengembangan perkara. Menurut dia, ada beberapa kondisi yang sifatnya berbeda antara satu penyidikan dengan yang lain dalam kasus KTP-El. "Ini sifatnya kasuistis," kata dia. 

Selain Johanes, Jimmy Iskandar Tedjasusila alias Bobby, mantan karyawan PT Java Trade Utama, juga mengungkap soal adanya aliran dana ke parlemen. Ia mengetahui hal tersebut saat berbincang santai dengan Direktur PT Murakabi Sejahtera Irvan Hendra Pambudi Cahyo yang juga keponakan Novanto. "Irvan sempat bicara, biaya besar banget. Saya tanya, berapa besar? Tujuh persen katanya dia bilang buat Senayan," ujar dia saat bersaksi di sidang KTP-El, Kamis (20/4).