Jumat , 19 Mei 2017, 06:49 WIB

Kapolri Minta Penganiaya Brigdatar Adam Ditindak Tegas

Red: Israr Itah
Penganiayaan (Ilustrasi)
Penganiayaan (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito memerintahkan untuk menindak seluruh pihak terlibat atas tewasnya Brigdatar Mohammmad Adam (21 tahun). Bahkan Tito meminta agar budaya pemukulan senior di sekolah akademi kepolisian dihentikan.

Adam, seorang taruna Akademi Kepolisian Tingkat II, tewas di Rumah Sakit Bhayangkara, Semarang, Jawa Tengah. Diduga taruna tersebut menjadi korban penganiayaan seniornya.

"Saya tegaskan ke seluruh taruna dan pengasuh supaya budaya kekerasan pemukulan tida terjadi lagi," ujar Tito di lingkungan PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (18/5) malam.

Menurut Tito budaya kekerasan tersebut tidak sesuai dengan citra polri. Sehingga, dia meminta agar gubernur dan kapolda setempat dapat memproses pidana kasus tersebut.

"Saya minta untuk dipidanakan. Saya juga minta Kapolda, Pak Condro (Kirono) untuk memproses pidana," ungkapnya.

Selain upaya penindakan kepada pelaku penganiayaan pada Adam, Tito juga mengutus tim untuk memeriksa sejauh mana tradisi kekerasan senior dan junior berlangsung di akademi kepolisian.

"Saya minta propam turun ke sana untuk melihat sampai sejauh mana lembaga akpol untuk menghentikan budaya kekerasan pemukulan senior junior. Nanti saya kira juga akan kami evaluasi pengasuh-pengasuh yang ada di situ. Kenapa budaya itu tidak juga berhenti. Padahal perintah saya sudah jelas demikian," ungkap Tito geram.

Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Adam diduga meninggal dunia karena banyaknya pukulan yang dia terima pada saat apel malam, Rabu (17/5). Ia kekurangan oksigen karena paru-parunya terluka. Pada Kamis (18/5), Adam berpulang.