Rabu , 23 August 2017, 11:22 WIB

Kasus Novel Berlarut-larut, Pengamat: Ini Memang Aneh

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Andi Nur Aminah
Republika/ Wihdan
Bambang Widodo Umar (kiri) bersama Ketua KPK Agus Rahardjo (kanan)
Bambang Widodo Umar (kiri) bersama Ketua KPK Agus Rahardjo (kanan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar merasa aneh melihat penyelesaian kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan, yang terkesan berlarut-larut. Apalagi jika dibandingkan dengan pengungkapan kasus penganiayaan terhadap ahli IT Hermansyah, di mana polisi sangat sigap menangkap pelaku.

"Memang aneh kasus Novel yang berlarut-larut pengungkapannya. Jika dibandingkan dengan kasus Hermansyah ahli IT yang cepat sekali terbongkar, meskipun banyak pihak meragukan pelakunya," kata Bambang saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (23/8).

Menurut Bambang, yang lebih aneh lagi adalah ketika Polri terlihat takut didampingi oleh tim gabungan pencari fakta (TGPF) dalam pengungkapan kasus Novel. Padahal, semestinya polisi berterima kasih saat ada masyarakat yang ingin berpartisipasi demi meringankan bebannya.

"Lebih aneh lagi Polri seperti takut didampingi TGPF. Padahal, dalam penegakan hukum, prosesnya harus fair, tidak boleh ditutup-tutupi ataupun disembunyikan. Malah seharusnya berterima kasih jika ada masyarakat yang berpartisipasi," ucap Bambang.

Seperti diketahui, Novel Baswedan diserang dengan air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April lalu sepulang dari shalat Subuh di masjid dekat rumahnya. Namun, hingga saat ini kasus tersebut tak kunjung menemukan titik terang. Meskipun polisi sudah melakukan pemeriksaan terhadap Novel di Singapura.