Jumat , 06 October 2017, 20:37 WIB

Elektabilitas Golkar Menurun, DPP: Jangan Salahkan Setnov

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Andri Saubani
Republika/ Yasin Habibi
 Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto (tengah), Ketua Harian DPP Partai Golkar Nurdin Halid (kiri), dan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham memimpin rapat pleno di ruang rapat utama gedung DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (18/7).
Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto (tengah), Ketua Harian DPP Partai Golkar Nurdin Halid (kiri), dan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham memimpin rapat pleno di ruang rapat utama gedung DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (18/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Mahyudin meminta semua pihak bekerja keras untuk memperbaiki elektabilitas Partai Golkar. Hal ini menyusul hasil sejumlah survei, salah satunya survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bahwa elektabilitas Partai Golkar menurun sejak akhir Desember 2015 dari 12,3 persen menjadi 11,4 persen pada September 2017.

Menurutnya, Partai Golkar masih mempunyai waktu untuk mengembalikan elektabilitas yang didapat partai berlambang pohon beringin pada 2014 yakni 16 persen. "Untuk bekerja sampai Pemilu 2019 saya kira masih punya waktu untuk memperbaiki kalau hanya turun jadi 11 persen untuk mencari 3-4 persen atau lima persen mungkin kita masih kuat, asal kita solid," ujar Mahyudin saat dihubungi pada Jumat (6/10).

Menurutnya, jangan kemudian penurunan elektabilitas tersebut justru menjadi ajang mencari kesalahan atau kambing hitam. Termasuk, salah satunya kepada Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto.

Sebab, kata Mahyudin, meski ia mengakui kasus hukum yang sempat menjerat Novanto memang memperngaruhi elektabilitas Partai, tidak serta merta penurunan karena hal tersebut. Terlebih saat ini diketahui, gugatan praperadilan penetapan tersangka Novanto dikabulkan dan membuat status tersangka kepada Novanto gugur.

"Tentu untuk mengatakan dia bersalah ya masih jauh. kedua saya kira memang sedikit banyaknya itu memperngaruhi, elektabilitas PG dimana memang pemilih sekarang itu cenderung cair dan tidak ada fanatisme tapi yang tersisa di Golkar saya kira pemilih fanatisme Golkar," ujarnya.

Wakil Ketua MPR itu menilai, daripada mencari kesalahan, lebih baik jajaran kader merapatkan barisan dan bekerja keras meyakinkan masyarakat terhadpa Partai Golkar. Hal ini juga nantinya dapat menaikan elektabilitas Partai Golkar.

"Merapatkan barisan, mensolidkan organisasi, tidak perlu kita mencari kambing hitam siapa yang salah atau elektabilitas ini dilimpahkan kepada ketua umum, tidak seperti itu. Kita juga harus intropeksi apa sih yang sudah kita kerjakan," ujarnya.

Lebih lanjut, Mahyudin juga mengatakan, hasil survei bukanlah penentu mutlak kemenangan partai di Pemilu 2019 mendatang. Apalagi survei masih dalam taraf toleransi margin of eror dengan posisi Golkar tetap nomor dua. "Ya kita melihat survei itu bahan masukan jadi bukan sesuatu yang mutlak tapi masukan bagi kinerja PG. nah itu biasa, sebelum pemilu 2014 juga Golkar turun naik angka segitu," ujarnya.