Kamis , 12 Oktober 2017, 08:08 WIB

Indonesia Peringkat 7 Dunia Perkawinan Anak

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Bilal Ramadhan
Alarabiya
Pernikahan anak (ilustrasi)
Pernikahan anak (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Isu perkawinan anak merupakan isu luar biasa penting. Indonesia berada di posisi nomor tujuh sebagai negara dengan tingkat perkawinan anak tertinggi dunia. Dampaknya dapat memengaruhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia.

"Perkawinan anak menjadi isu yang luar biasa penting dan sangat relevan bagi anak-anak, khususnya anak perempuan agar kita dapat mengangkat mereka menjadi pelopor dalam mengurangi angka perkawinan anak," ungkap Deputi Tumbuh Kembang Anak KemenPPPA Lenny N. Rosalin dalam keterangan tertulis yang Republika.co.id terima, Kamis (12/10).

Ia menjelaskan, Indonesia berada di posisi nomor tujuh sebagai negara dengan tingkat perkawinan anak tertinggi di dunia. Menurutnya, perkawinan akan memiliki dampak yang penting, tiga di antaranya berpengaruh terhadap Human Development Index atau IPM.

"Pertama, masalah pendidikan. Banyaknya anak yang telah menikah akhirnya di-drop out dari sekolah," terang Lenny.

Kedua, masalah kesehatan bagi ibu maupun anaknya. Akibat si ibu berumur masih sangat muda, ketika melahirkan nantinya akan terkena risiko pendarahan, bahkan kematian. Ketiga, masalah ekonomi. Lenny menjelaskan, jika dalam usia anak-anak mereka telah menjadi janda yang telah memiliki anak, maka anak tersebut harus bekerja untuk menghidupi anaknya.

"Selain itu, pada umumnya mereka hanya dapat menyebabkan siklus kemiskinan. Jika Indonesia ingin memiliki IPM tinggi, maka seluruh lapisan masyarakat harus ikut menekan angka perkawinan anak," ujar dia.

Maka dari itu, Lenny mengatakan, pihaknya menyelenggarakan kegiatan 'Sehari Menjadi Menteri'. Kegiatan tersebut diikuti 21 orang peserta dari seluruh pelosok negeri yang dipilih berdasarkan kreativitas dan inovasi mereka.

"Tentunya karena adanya affirmative action yang kalian lakukan. Hal ini juga sebagai dasar bagi kami untuk melakukan kampanye dan sosialisasi agar anak perempuan Indonesia semakin maju," jelas Lenny.

Salah satu peserta kegiatan tersebut asal Bali, Kade Ayu Winandari Kusuma Premesuari mengaku senang bisa bertemu dengan perserta lainnya. Ia mengaku mendapatkan banyak ilmu terkait kesetaraan gender dan perkawinan anak.

"Saya merasa dapat berkontribusi dan menyuarakan aspirasi melalui rekomendasi yang ditujukan kepada Menteri PPPA. Saya berharap rekomendasi itu dapat ditindaklanjuti, sehingga dapat menekan angka perkawinan anak," kata dia.