Kamis , 07 December 2017, 06:23 WIB

Jika Benar Bahrum Naim Tewas, Keluarga tak Tuntut Pemulangan

Rep: Adrian Saputra/ Red: Andi Nur Aminah
Antara
 Bahrun Naim
Bahrun Naim

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO --- Anggota ISIS asal Indonesia, Bahrun Naim dikabarkan sempat berkomunikasi dengan keluarganya di Solo. Bahrun Naim terakhir berbincang dengan keluarganya via telepon sekitar dua bulan lalu.

"Sudah lama tak komunikasi. (Terakhir) sekitar dua bulan lalu sudah tidak komunikasi. Keluarganya tak tahu apa-apa. (Komunikasi terakhir) ngakunya lagi di Suriah tapi siapa yang bisa menjamin dia ada di Suriah," tutur pengacara keluarga Bahrun Naim, Anis Prijo Anshorie dalam konferensi pers di Solo pada Rabu (6/12).

Anis mengatakan sampai saat ini pihak keluarga Bahrun Naim masih menunggu kepastian terkait kabar tewasnya Bahrun Naim. Kabar yang beredar luas di grup aplikasi tukar pesan WhatsApp menyebut Bahrun Naim tewas dalam sebuah serangan. Pesan tersebut mengatakan Bahrun Naim tewas pada 30 November.

Keluarga Bahrun Naim pun meminta Polri untuk memastikan kabar tersebut dengan melacak penyebar pertama kabar tewasnya Bahrun Naim. "Harus dilacak siapa yang menyebarkamnua, sebab sampao detik ini belum ada pemberitahuan apapun, termasuk Bahrun Naim juga tidak telepon jadi keluarga tak tahu apa-apa," katanya.

Anis mengatakan keluarganya pasrah jika kabar tewasnya Bahrun Naim benar. Keluarga pun tak menuntut pemulangan Bahrun Naim ke Tanah Air.

Anis mengatakan keluarga Bahrun Naim  menyerahkan sepenuhnya proses pencarian Bahrun Naim kepada Pemerintah. Dia menyebut pihak keluarga pun tak tahu apakah Bahrun Naim berganti kewarganegaraan atau tidak. "Kalau Bahrun Naim masih sebagai Warga Negara Indonesia Negaralah yang cari tahu bukan keluarganya," kata dia.

Nama Bahrun Naim mulai muncul ketika ditangkap Densus 88 pada 2010 karena menyimpan senjata api dan amunisi yang disebutnnya sebagai titipan dari seorang buron kasus terorisme. Bahrun Naim juga disebut sebagai dalang aksi teror bom Thamrin, Jakarta Pusat, pada Januari 2016.

Bahrun yang kerap disebut sebagai pimpinan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ini merekrut sejumlah teroris dari Indonesia. Bahrun juga kerap mengajarkan cara membuat bom melalui grup-grup Telegram internal teroris. Selain itu, Naim sering dikaitkan dengan kelompok jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso.