Kamis, 10 Sya'ban 1439 / 26 April 2018

Kamis, 10 Sya'ban 1439 / 26 April 2018

Soal Penyebutan Puan dan Pramono, Ini Saran Fahri untuk KPK

Kamis 22 Maret 2018 16:28 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Andri Saubani

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah.

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah.

Foto: Republika/Rahma Sulistya
Pengakuan Setnov dinilai Fahri tidak bermanfaat untuk upaya pemberantasan korupsi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah menilai disebutnya nama Puan Maharani yang diduga menerima uang proyek KTP-El oleh terdakwa kasus KTP-El, Setya Novanto (Setnov) pada persidangan Tipikor, Jakarta, Kamis (22/3) hanyalah untuk menciptakan aktor baru dan sensasi baru. Pengakuan Setnov, dinilai Fahri tidak bermanfaat.

"Ini kan another sensation, festival baru. Tapi apa manfaatnya buat kita? Fokus kita itu kan adalah kerugian negara, itu yang saya challenge terus," kata Fahri Hamzah, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, kamis (22/3).

Fahri menyarankan, seharusnya KPK fokus pada audit, bukan justru menyeret dan menyandera banyak nama. "Fokuslah pada audit. Kalau moral-moral begini semua kena, nanti semua kena sandera ini, dan semua sudah kena sandera sekarang," ujarnya.

Menurutnya apa yang disampaikan Setnov tidak ada yang baru. Bahkan Fahri menuding KPK hanyalah sebagai produsen hoaks terbesar di dunia. "Sekarang mulai ada nama-nama baru muncul. Asyik dong lagi diomongin. Ah KPK nyawanya nambah, ada sensasi baru yang lebih asyik. Apa manfaatnya buat kita apa? Nggak ada, ya kan?," tambahnya.

Selain Puan, politikus PDI Perjuangan lainnya yang disebut oleh mantan ketua umum Partai Golkar diduga menerima uang aliran proyek KTP-El adalah Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Setnov menyebut masing-masing menerima 500 ribu dolar AS melalui Made Oka Masagung.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES