Rabu , 08 March 2017, 10:29 WIB

90 Persen Anak Sapi Mati karena Penyakit Ini

Red: Dwi Murdaningsih
Antara/Musyawir
Induk sapi dan anaknya (ilustrasi).
Induk sapi dan anaknya (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian mengungkapkan tingkat kematian anak sapi (pedet) akibat penyakit kolibasilosis di Tanah Air mencapai 90 persen. Kepala Balitbangtan M. Syakir mengatakan bahwa kolibasilosis merupakan penyakit infeksius bakterial pada anak sapi yang disebabkan bakteri enterotoksigenik escerechia coli (ETEC) dan verotoksigenik escherichia.coli (VTEC).

Penyakit tersebut, lanjut dia, pada umumnya menginfeksi anak sapi pada pekan pertama kelahiran dengan menyebabkan diare profus, dehidrasi, dan kematian sehingga merugikan secara ekonomi. "Kasus kolibasilosis pada anak sapi di Indonesia dilaporkan mencapai 21,91 persen dengan tingkat kematian mencapai 90,92 persen," katanya pada peluncuran Vaksin ETEC + VTEC di kompleks Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Veteriner (BB Vet) Cimanggu, belum lama ini.

Cara Mudah Membuat Pupuk Organik Cair

Terkait dengan upaya menekan tingkat kematian anak sapi akibat kolibasilosis tersebut, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Veteriner berhasil mengembangkan vaksin ETEC + VTEC untuk mencegah diare neonatal pada anak sapi. Syakir mengatakan bahwa saat ini Kementerian Pertanian tengah menggalakkan program Sapi Induk Wajib Bunting (Siwab) sebagai upaya meningkatkan populasi sapi di Indonesia. Melalui program tersebut, pemerintah menargetkan pada tahun 2017 terjadi kelahiran anak sapi mencapai 3 juta ekor.

"Program ini akan efektif jika sapi yang bunting mampu melahirkan pedet (anak sapi) yang sehat dan mampu tumbuh sampai dewasa," katanya.

Kepala BB Veteriner Indi Damayanti menyatakan bahwa vaksin ETEC + VTEC hasil inovasi BB veteriner menggunakan bakteri E.coli dan verotoksigenik isolat lokal yang memiliki keunggulan, antara lain, tidak toksik dan tidak menimbulkan aborsi maupun efek samping lainnya, mampu mencegah diare dan kematian anak sapi.

Vaksin tersebut, ujarnya, mampu memberikan kekebalan pada anak sapi hingga 90 persen, antibodi bertahan dalam kolustrum hingga 3 bulan sehingga mampu menurunkan kematian anak sapi hingga tinggal 1 persen.
Menurut dia, meskipun vaksin tersebut baru dikembangkan dalam setahun terakhir, sudah ada perusahaan obat hewan yang siap memperbanyaknya, yakni PT Caprifarmindo anak perusahaan PT Sanbefarma.

"Jika sudah mendapatkan izin edar dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, bisa dijual bebas nantinya vaksin ini," katanya.

Peneliti BB veteriner Syamsul Bahri menyatakan jika tidak dilakukan penanggulangan sejak dini terhadap kematian anak sapi target kelahiran anak sapi melalui Siwab sebanyak 3 juta ekor akan mengalami kematian hingga 600 ribu ekor.

Sumber : antara