Rabu , 08 Maret 2017, 17:00 WIB

Belitung, dari Laskar Pelangi Hingga Laskar Padi

Red: Dwi Murdaningsih
Antara
Petani sedang bercocok tanam (ilustrasi)
Petani sedang bercocok tanam (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BELITUNG -- Pulau Belitung menjadi lebih mashur ketika Andrea Hirata menerbitkan novel Laskar Pelangi. Padahal jauh sebelum novel itu menjadi best seller, pulau ini terkenal dengan tambang timahnya. Siapa sangka, di pulau yang penuh lubang galian tambang ini tersimpan potensi besar dibidang lain, pertanian.

Bidang pertanian tanaman pangan khususnya padi memang belum lama digeluti masyarakat pulau Belitung. Awalnya, lada, kelapa sawit dan karet adalah komoditas yang pertama masuk di wilayah ini.  Menurut Sudradjat, penyuluh pertanian di Kabupaten Belitung Timur, padi baru mulai ditanam pada medio 1990an.

“Lada memang sudah membudaya di masyarakat, tanpa disuruh pun masyarakat akan menanamnya, sementara padi masih agak baru," ujar dia, Kamis (15/2).

Di Kabupatenini terdapat satu daerah percontohan untuk mengembangkan tanaman padi yaitu Kebun Percobaan Gantung milik Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian. Di Kebun Percobaan ini, petani dapat melihat dan belajar bagaimana cara membudidayakan padi di lahan bekas tambang.

“Kebun percobaan ini baru dibentuk pada Maret 2016, dan lahan ini adalah lahan bekas tambang pasir kuarsa,” kata Dede Rusmawan, Kepala Kebun Percobaan Gantung.

Balitbangtan telah mulai memperkenalkan berbagai teknologi pertanian sejak 2011. Balitbangtan memperkenalkan bagaimana memperlakukan lahan bekas tambang agar dapat ditanami padi dengan melakukan pemberian campuran kapur dan pupuk kandang.

Selain itu juga digunakan varietas unggul baru baik yang berumur pendek maupun tahan salinitas atau kandungan garam tanah. Kebun percobaan ini merupakan percontohan bagi pertanian lahan bekas tambang, khususnya lahan berpasir. Di kebun percobaan seluas 10 Ha yang merupakan hibah dari tanah Desa Gantong ini, ditanam varietas unggul seperti Inpari 19, Inpari 34 juga Inpara 2.

Varietas unggul lain milik Balitbangtan ternyata juga telah diadopsi dan diterima oleh masyarakat. Inpari 20 dan Mekongga merupakan varietas yang bernilai tinggi di Belitung. Meskipun ditanam di lahan bekas tambang yang mempunyai kandungan mineral tinggi. Beras yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi.

“Dengan perlakuan tanah melalui penambahan kapur dan pupuk kandang serta NPK, kandungan logam berat yang terdapat di beras sudah di bawah ambang batas, sehingga aman dikonsumsi,” ujar Dede.

Menurut Ahmadi Julianto, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mufakat, Desa Gantung bahwa sejak diperkenalkan teknologi pertanian tersebut, pendapatan petani ikut meningkat.  “Kami dikenalkan cara tanam jarwo (jajar legowo), juga dikenalkan varietas unggul tahan salinitas seperti Inpara 2. Sejak itu petani jadi giat bersawah sehingga hasil pun meningkat” ujarnya.

Siswadi Usman, Kepala Desa Gantong sangat mendukung adanya kebun percobaan ini, meski diakui tidak mudah merubah pola pikir masyarakatnya, namun dia optimis melalui kerjasama dengan Balitbangtan ini masyarakat akan lebih tergerak. “Wilayah ini akan kita olah untuk berkembang kedepan dengan sistem kombinasi persawahan, kebun, penelitian serta pariwisata," kata dia.

Dengan potensi ini, kedepan Pulau Belitung disiapkan untuk menjadi salah satu lumbung pangan di wilayah Sumatera. Melihat semangat kelompok tani yang bergelora serta dukungan Balitbangtan melalui teknologinya, target itu bukan tidak mungkin akan dapat terwujud.