Kamis , 09 Maret 2017, 19:39 WIB

Penghemat BBM Berbahan Minyak Atsiri

Red: Hazliansyah
Republika/Agung Supriyanto
 Warga melakukan pengisian bahan Bakar Minyak (BBM) secara swadaya di SBPU Cikini, Jakarta, Ahad (26/2).
Warga melakukan pengisian bahan Bakar Minyak (BBM) secara swadaya di SBPU Cikini, Jakarta, Ahad (26/2).

REPUBLIKA.CO.ID, -- Ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) semakin berkurang sementara penggunaannya terus meningkat, seiring dengan meningkatnya aktifitas industri, kendaraan bermotor, dan lainnya. Disamping itu pembakaran BBM juga meningkatkan pencemaran udara dan pemanasan global.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pembakaran BBM tersebut adalah dengan menggunakan bahan additif.

Additif BBM adalah suatu bahan berupa minyak atsiri yang selanjutnya disebut bio-additif ditambahkan kedalam BBM dalam jumlah yang sangat kecil dengan tujuan untuk menyempurnakan pembakaran didalam mesin sehingga energi/tenaga yang dihasilkan lebih besar dari sebelumnya.

Dalam laporan penelitian tahun 2011 yang dilakukan oleh Ma’mun, dkk. peneliti dari Badan Litbang Pertanian yang menekuni minyak atsiri telah diperoleh formula bio-additif untuk bensin dan formula bio-additif untuk solar.

Dari hasil pengujian formula bio-additif yang dicampurkan pada bensin menunjukan kenaikan angka oktana sebesar 0,4 dengan spesifikasi fisika kimia bensin setelah dicampur bio-additif masih memenuhi spesifikasi mutu. Kinerja bio-additif pada bensin cukup baik ditunjukkan oleh peningkatan torsi dan daya motor serta berkurangnya konsumsi bahan bakar spesifik setelah dicampur dengan bio-additif.

Sedangkan hasil pengujian bio-aditif yang dicampurkan pada solar juga cukup baik. Peningkatan mutu bakar (cetana) yang ditunjukkan terhadap kualitas penyalaan lebih cepat  2,9 (48,4) dibandingkan tanpa dicampur dengan bio-additif (45,5).

Uji kinerja pada bio-additif solar menunjukkan peningkatan torsi dan daya motor pada bahan bakar solar, serta mengurangi konsumsi bahan bakar spesifik.

Selanjutnya untuk uji emisi gas buang memberikan hasil berkurangnya konsentraasi gas karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2) dan hidrokarbon (HC). Pengujian lapangan (uji jalan) beberapa kendaraan roda 4 menunjukkan tingkat penghematan bensin maupun solar rata-rata sebesar 20 sampai 40%.

Spesifikasi fisika kimia solar maupun bensin setelah dicampur bio-additif masih memenuhi standar mutu dari Direktorat Jendral Minyak dan Gas.

Kini, hasil penelitian tersebut sudah di “tangkap” oleh swasta dengan nama produk Gastrofac untuk campuran bensin dan Cetrofac untuk campuran solar. Mau coba?