Kamis , 09 March 2017, 19:33 WIB

Padi Tadah Hujan dan Berumur Genjah

Red: Hazliansyah
Antara/Ampelsa
Petani menanam padi di lahan sawah tadah hujan , Desa Lampisang, Lhoknga, Aceh Besar, Aceh, Senin (28/11).
Petani menanam padi di lahan sawah tadah hujan , Desa Lampisang, Lhoknga, Aceh Besar, Aceh, Senin (28/11).

REPUBLIKA.CO.ID, Penulis: Suharna dan Likco, Balitbangtan Kementan

Lahan sawah tadah hujan dengan luas 1.4 juta ha merupakan lumbung padi kedua setelah lahan irigasi bagi Indonesia. Pengertian lahan sawah tadah hujan adalah lahan yang memiliki pematang namun tidak dapat diairi dengan ketinggian dan waktu tertentu secara kontinyu.

Oleh karena itu, pengairan lahan sawah tadah hujan sangat ditentukan oleh curah hujan sehingga risiko kekeringan sering terjadi pada daerah tersebut di musim kemarau.

Sejauh ini varietas padi untuk lahan sawah tadah hujan yang memiliki sifat tahan terhadap penyakit blas masih sangat terbatas. Di lain pihak, sangat diperlukan diversifikasi varietas tahan penyakit blas untuk menanggulangi penyakit tersebut agar gen ketahanan tidak mudah patah.

Oleh karena itu diperlukan sejumlah varietas dengan keragaman gen ketahanan yang luas yang dianjurkan untuk ditanam oleh petani.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah melepas varietas padi sawah tadah hujan yang toleran terhadap kekeringan dan tahan penyakit blas, diantaranya Inpari 38 Tadah Hujan, Inpari 39 Tadah Hujan, dan Inpari 41 Tadah Hujan.

Inpari 38 Tadah Hujan merupakan hasil persilangan dari IR68886BA/BP68*10/ Selegreng//Guarani/Asahan. Pada tahap pengujiannya, pada saat generasi menengah telah dilakukan pengujian daya hasil selama 3 musim di Taman Bogo Lampung. Galur ini lebih memiliki tinggi tanaman relatif pendek dan telah teruji potensi hasilnya pada kondisi kering di Taman Bogo sehingga kemudian galur ini dilanjutkan untuk diuji multilokasi pada kondisi lahan tadah hujan.

Inpari 38 Tadah Hujan memiliki hasil gabah kering giling 5.71 t/ha, potensi hasil 8.16 t/ha, berumur genjah, dan agak toleran terhadap kekeringan. Varietas Inpari 38 Tadah Hujan agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III, agak tahan penyakit blas, tetapi rentan terhadap hama wereng coklat dan penyakit tungro. Mutu beras pecah kulit Inpari 38 cukup tinggi yaitu 78.35 % dan beras kepala 68.79 %.

Inpari 39 Tadah Hujan memiliki silsilah persilangan BP342B-MR-1-3/Dendang// IR69502-6-Skn-Ubn-1-B1. Seleksi generasi awal hingga pengujian daya hasil di lahan kering Taman Bogo. Pengujian daya hasil menunjukkan bahwa galur tersebut memiliki potensi hasil yang baik di lahan kering sehingga dilanjutkan ke tahap uji multilokasi di sejumlah lahan tadah hujan.

Inpari 39 Tadah Hujan memiliki hasil gabah kering giling 5.89 t/ha dengan potensi hasil 8.45 t/ha, berumur genjah (115±4 hari setelah sebar), dan agak toleran terhadap kekeringan. Varietas ini memiliki respon agak tahan terhadap penyakit blas. Akan tetapi, varietas ini agak rentan terhadap hama wereng coklat, penyakit hawar daun bakteri, dan tungro. Rendemen beras pecah kulit varietas ini adalah 79.37 % dan beras giling 69.38 %.

Inpari 41 Tadah Hujan merupakan persilangan antara Limboto/Towuti//Ciherang. Latar belakang genetik persilangan tersebut mengandung sifat-sifat toleran kekeringan, tahan penyakit blas, dan bermutu beras/nasi baik. Pengujian daya hasil pada saat generasi menengah dilakukan di daerah tadah hujan dengan pengairan terbatas, kemudian dilanjutkan ke tahap uji multilokasi di sejumlah lahan tadah hujan.

Inpari 41 Tadah Hujan memiliki rata-rata hasil gabah kering giling 5.57 t/ha dengan potensi hasil 7.83 t/ha, berumur genjah (114 hari), dan agak toleran terhadap kekeringan. Varietas ini agak tahan terhadap penyakit blas dan agak tahan penyakit hawar daun bakteri strain III, akan tetapi agak rentan terhadap hama wereng coklat dan tungro. Varietas ini juga memiliki mutu beras cukup baik, yaitu rendemen beras pecah kulit 77.8 % dan beras giling 75.60 %.