Ahad , 19 March 2017, 12:51 WIB

Inovasi Balingtan Deteksi Residu Insektisida Cepat dan Akurat

Red: Hazliansyah
Antara/Rudi Mulya
Petani menyemprotkan cairan insektisida pada tanaman cabe di lahan perkebunan cabe rawit di Desa Menang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Selasa (16/12).
Petani menyemprotkan cairan insektisida pada tanaman cabe di lahan perkebunan cabe rawit di Desa Menang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Selasa (16/12).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Asep Nugraha Ardiwinata, Kepala Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan), Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian

Salah satu kendala dalam pertanian kita adalah organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Untuk mengatasi OPT tersebut, petani kita lebih memilih penggunaan pestisida (insektisida). Mengapa insektisida banyak disukai oleh petani?

Hal ini dikarenakan hasilnya yang /cespleng dan stok tersedia banyak (mudah didapat). Sekarang ini, penggunaan insektisida sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pertanian kita, dikarenakan petani tidak mau berisiko kegagalan panen.

Petani berprinsip, ada tidak ada OPT, mereka tetap menyemprot tanaman mereka dengan insektisida. Hal ini menyebabkan penggunaan insektisida yang misuse dan over dosis. Hal ini juga berdampak negatif terhadap lingkungan pertanian antara lain dengan tertinggalnya residu insektisida di matrik tanah, air, tanaman dan produk pertanian.

Apabila residu insektisida tersebut terkonsumsi oleh manusia melalui produk pertanian, maka akan berpotensi mengganggu sistem reproduksi dan dapat menstimulus sel kanker pada manusia.

Residu insektisida menurut laporan hasil penelitian Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) sejak tahun 2007, telah ditemukan di tanaman padi maupun sayuran di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan beberapa konsentrasinya telah melampaui batas maksimum residu pestisida (BMR).

Residu insektisida yang umum ditemukan di lahan pertanian kita antara lain adalah dari golongan organofosfat, organoklorin, karbamat dan piretroid. Diantara golongan insektisida tersebut (organoklorin) bersifat Persistent Organic Poluttant Insecticides (POPs).

Untuk mengetahui kandungan residu insektisida di sampel tanah, air, tanaman dan produk pertanian, umumnya kita harus membawa sampel tersebut ke laboratorium untuk dianalisis dan dideteksi dengan alat yang namanya Kromatografi Gas Cairan atau Gas Liquid Chromatography (KGC atau GLC atau GC) (Gambar 1).

Biasanya, pengerjaan analisis residu insektisida di laboratorium dapat memakan waktu 3–7 hari per sampel. Dalam analisis tersebut juga menggunakan bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan antara lain n-heksan, aseton, asetonitril, diklorometan, petroleum eter dan lain-lain.

Alat-alat yang digunakan untuk analisis residu insektisida antara lain GC, homogenizer, soxhlet, clean up, dan rotary evaporator yang notabene alat tersebut tidak bisa dibawa ke lapangan. Selain itu, harga dari alat-alat tersebut (total) bisa mencapai Rp 1 Miliar.

Berdasarkan kelemahan GC tersebut, Tim Balingtan merasa perlu menciptakan suatu alat sejenis GC yang dapat dibawa ke lapangan dan real time.

Melalui penelitian yang tidak mengenal lelah (2010-2015), akhirnya Tim Peneliti Balingtan berhasil menciptakan alat tersebut yang diberi nama Alat Multi Deteksi – 01 (AMD – 01) (Gambar 2).

Inspirasi alat tersebut berawal dari alat amper/ohm meter yang biasa digunakan untuk mengukur arus/ketahanan listrik. Ohm meter inilah yang menjadi prinsip dasar kerja alat AMD–01.

Analisis residu insektisida dengan AMD – 01 meliputi DDT, klorpirifos dan karbofuran dengan hanya memakan waktu 10 – 15 menit, akurasi analisis pada level part per million (ppm), tidak menggunakan bahan kimia berbahaya (hanya menggunakan air saja). Harga AMD-01 berkisar 15-20 juta rupiah. Perbandingan antara alat GC dan AMD disajikan pada Tabel 1.