Senin , 10 April 2017, 17:21 WIB

Longsor Ancam Pasokan Pangan

Red: Dwi Murdaningsih
Antara/Siswowidodo
Tim gabungan memantau lokasi setelah terjadi longsor susulan di lokasi bencana longsor Desa Banaran, Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, Minggu (9/4).
Tim gabungan memantau lokasi setelah terjadi longsor susulan di lokasi bencana longsor Desa Banaran, Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, Minggu (9/4).

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Achmad Rachman, Peneliti di Badan Litbang Pertanian, Mantan Atase Pertanian di Amerika Serikat

Bencana tanah longsor di Ponorogo, Jawa Timur, yang memakan korban ratusan jiwa membuka mata kita bahwa Indonesia bukan hanya terancam oleh bencana gempa bumi dan letusan gunung berapi seperti yang sering diulas media. Indonesia sesungguhnya seperti tercatat dalam International Council for Science termasuk 7 negara dengan korban jiwa terbesar karena longsor bersama Brazil, India, Afganistan, Nepal, Filipina, dan Bolivia.

Bahkan Global Assesement Report yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut Indonesia adalah negara paling tinggi yang beresiko tanah longsor karena 2 faktor utama. Pertama, Indonesia termasuk wilayah tropis dengan curah hujan sangat tinggi. Kedua, lebih dari 45 persen daratan di Indonesia berbentuk perbukitan dan pegunungan yang berlereng landai hingga curam. Daerah pegunungan berlereng curam juga umumnya menjadi wilayah dengan curah hujan yang sangat tinggi.

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu sejalan dengan data nasional dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mencatat pada 2016 kejadian longsor 2 kali lipat dibanding kejadian longsor pada 2011. Pada 2016 terjadi longsor 616 kali, sementara pada 2011 hanya 329 kejadian. Yang mencemaskan pada 2017 yang baru berjalan 4 bulan saja telah terjadi 215 kali kejadian dengan kejadian terakhir di Ponorogo, Jawa Timur.

Beragam aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan membuat para ahli konservasi tanah di Balai Penelitian Tanah memprediksi jumlah dan dampak bahaya longsor akan meningkat di masa depan. Seperti biasa korban paling menderita adalah masyarakat kecil. Mereka kehilangan anggota keluarga, rumah, dan harta benda. Namun, diluar kehilangan tersebut, banyak kerugian yang tak kentara tetapi berdampak luas bagi masyarakat setempat dan masyarakat sekitar wilayah bencana.

Kerugian yang tak kentara itu berupa lenyapnya lahan pertanian tempat mayoritas masyarakat Indonesia mencari nafkah. Kerugian tersebut bukan hanya menimpa masyarakat di wilayah bencana, tetapi juga mengancam masyarakat luar karena pasokan pangan bakal terganggu. Bila bahaya longsor meluas di berbagai daerah maka ketahanan pangan nasional juga terancam. Yang mengerikan ialah hampir sebagian besar wilayah sentra pertanian di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Sulawesi Tengah berada pada wilayah pegunungan dan perbukitan yang rawan longsor.

Lahan pertanian hilang karena tertimbun material longsor atau sebaliknya amblas sehingga menjadi cekungan yang dalam sehingga lahan tak lagi dapat ditanami. Di samping itu terjadi dampak tidak langsung berupa kerusakan infrastruktur pendukung usahatani seperti jalan usahatani, saluran irigasi, sumber air, dan penggilingan serta gudang. Indonesia membutuhkan kebijakan dan strategi baru untuk mitigasi ancaman longsor dalam kerangka mencegah kelangkaan pangan.