Rabu , 28 September 2016, 08:10 WIB

Penggusuran Bukit Duri Dikawal Ratusan Polisi dan TNI

Rep: c39/ Red: Angga Indrawan
Muhyiddin/republika
Suasana jelang penggusuran kawasan Bukit Duri, Rabu (28/9).
Suasana jelang penggusuran kawasan Bukit Duri, Rabu (28/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penggusuran terhadap Kampung Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (28/9) hari ini di-back up oleh TNI dan Polisi. Sementara, warga berniat melakukan aksi damai dalam penggusuran itu.

Camat Tebet, Mahludin mengatakan, ada 550 personel gabungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Jakarta Selatan, Satpol PP, Polri dan TNI. Dia menjelaskan, aparat dari Polri dan TNI hanya ikut dalam mem-back up saja.

Sementara, untuk barisan terdepan adalah Satpol PP dan pihak Pemprov DKI dan Pemkot Jakarta Selatan serta Kecamatan Tebet. "Polri dan TNI hanya mem-back up saja," ucap dia kepada wartawan, Rabu (28/9).

Berdasarkan pantauan, petugas sudah melakukan apel gabungan persiapan penggusuran. Apel tersebut dilaksanakan di Depo KRL Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Ada sekitar 4 alat berat berupa buldoser yang akan dikerahkan dalam penggusuran di permukiman bantaran sungai Ciliwung tersebut.

Pada pukul 08.00 WIB, salah satu alat berat tersebut mulai meluluhlantakkan bangunan, warga berteriak Allahu akbar dan mencoba untuk tidak melakukan aksi kekerasan. Tidak hanya itu, warga juga bernyanyi mengiringi buldoser yang terus melakukan penggusuran.

Dari pemaparan Mahludin, bahwa sebanyak 313 yang sudah menempati unit rumah susun (rusun) di Rawa Bebek, Jakarta Timur. Sementara itu, ada 70 unit rusun yang belum diambil oleh warga. Selain itu, ada sekitar 68 Kepala Keluarga (KK) yang menolak untuk direlokasi dan memilih tetap bertahan. 52 di antaranya punya peta bidang dan 14 lainnya tidak punya peta bidang.

Kawasan yang akan dilakukan penertiban itu terletak RW 09, 10, 11, dan 12 Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.