Selasa , 27 Desember 2016, 12:45 WIB

TPST Bantargebang Harus Punya Teknologi Pengelolaan Sampah Modern

Rep: Kabul Astuti/ Red: Hazliansyah
Republika/Aditya Pradana Putra
Sejumlah pekerja mengemas sampah-sampah plastik di kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Sejumlah pekerja mengemas sampah-sampah plastik di kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Ketua Komisi A DPRD Kota Bekasi, Ariyanto Hendrata, menanggapi temuan obat-obatan bekas atau kedaluwarsa yang dikumpulkan oleh seorang pengepul dari para pemulung di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

"Itu tidak boleh. Sampah obat-obatan termasuk kategori sampah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya). Yang wajib dimusnahkan setelah digunakan," kata Ariyanto Hendrata, kepada Republika.co.id, Selasa (27/12).

Ariyanto menjelaskan, penanganan sampah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3), termasuk obat-obatan, harus dengan perlakuan khusus. Ada yang harus dimusnahkan menggunakan incinerator, ada juga yang diolah menjadi energi terbarukan.

Politisi PKS ini menilai temuan sampah obat-obatan di TPST Bantargebang ini akibat dari tidak adanya teknologi pengolahan sampah yang baik di TPST Bantargebang. Apabila ada teknologi pengolahan sampah yang baik, lanjut dia, sampah-sampah tersebut seharusnya dipilah.

Pihaknya mendesak kepada Pemprov DKI Jakarta agar segera menghadirkan teknologi pengolahan sampah yang modern dan ramah lingkungan sebagai solusi permasalahan dampak buruk sampah yang ada.

Menurut Ariyanto, dalam adendum perjanjian kerja sama atau MoU antara Pemprov DKI dan Pemkot Bekasi yang terbaru, dimungkinkan Pemprov DKI Jakarta bersama Pemkot Bekasi membentuk badan pengelola bersama TPST Bantargebang yang lebih profesional.

Ia mendorong Pemprov DKI dan Pemkot Bekasi untuk kembali duduk bersama menyelesaikan permasalahan ini.

"Ini persoalan serius. Sampah DKI yang masuk ke TPST Bantargebang sangat besar. Saya khawatir jika dianggap remeh selain akan terjadi fenomena penjualan barang bekas yang berbahaya juga akan terjadi bencana ekologis yang luar biasa bagi lingkungan sekitar," tutur Ariyanto.

Pekan lalu, Polres Metro Bekasi Kota menangkap seorang pengepul obat-obatan bekas berinisial JU (53 tahun). Pelaku mengaku mendapatkan obat-obatan tersebut dengan cara membeli dari para pemulung di TPST Bantargebang. Obat-obatan tersebut dijual kembali ke toko-toko obat yang berada di Pasar Pramuka, Jakarta Timur.