Kamis , 30 March 2017, 17:13 WIB

Haji Naim Wariskan Usaha Pijat kepada Anak Cucunya

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Karta Raharja Ucu
Agung Surpiyanto/Republika
RANA: Suasana lokasi pengobatan pijat patah tulang Haji Na'im.
RANA: Suasana lokasi pengobatan pijat patah tulang Haji Na'im.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Usaha pijat yang diproklamirkan Haji Naim kini telah menjadi usaha turun-temurun. Bukan hanya anak, cucu Haji Naim juga banyak yang menggeluti profesi sebagai ahli tulang.

Pengelolan Rumah Pijat Tulang Haji Naim (RPTHN), Haji Hasan Basri mengatakan, seluruh anak diajarkan langsung ayahnya, Haji Naim. Dari 13 anak Haji Naim, 12 di antaranya dibawa ke Cimande untuk belajar ilmu memijat dan mengambil ijazah pengamalan. Ijazah pengamalan biasanya dilakukan dengan cara puasa. "Nah, semua anaknya Haji Naim ngajarin juga ke anak-anaknya," ujar Hasan.

Salah satu keponakan Haji Hasan, Hj Julaiha yang merupakan anak pertama dari Hj Aisyah, anak ketujuh Haji Naim saat ini telah membuka usaha pijat khusus perempuan di rumahnya yang berseberangan dengan RPTHN.

(Baca Juga: Riwayat Haji Naim, Tukang Urut Legendaris dari Cimande)

Hj Julaiha sebelumnya berprofesi sebagai pedagang, dan tinggal bersama ibunya, Hj Aisyah di Cikarang, Bekasi. Hj Aisyah telah membuka usaha pijat yang menyerupai RPTHN. Julaiha mengatakan mempelajari teknik pijat dari ibunya dan sempat belajar di Cimande selama dua bulan. Berbeda dengan RPTHN yang melayani seluruh pasien dari berbagai usia dan jenis kelamin, Julaiha hanya melayani pasien perempuan baik yang mengeluh keseleo, urat terjepit, maupun patah tulang.

Sistem pengelolaan rumah pijat Julaiha sedikit berbeda dengan RPTHN. Jam operasional RPTHN dimulai sejak 08.00 WIB hingga 23.00 WIB, sedangkan Julaiha hanya buka sejak 08.00 WIB hingga 17.00 WIB. "Kalo teknik pijat sama bahan yang dipake saya sama aja," ujar Julaiha.

Salah satu pasien Julaiha, Mbah Ratri (80 tahun) mengatakan telah dua kali dipijat Julaiha. Nenek asal Kebayoran Baru ini mengalami pembengkakan pada tangannya karena terpeleset. "Lagi jalan mau ke rumah anak, mau nanjak masuk ke dalem terus kepeleset," ujar Ratri.

Mbah yang ditemani cucu nya ini mengaku sudah sering berobat dan pijat di rumah pijat Julaiha. Menurut Ratri, sebelumnya dia pernah jatuh dan mengalami patah tulang di bagian yang sama. "Dulu sih patah, sampe berdarah terus tulangnya kaya keluar gitu," ujar Iman, cucu Ratri.
 
Namun, kejadian itu sudah terjadi sekitar empat tahun lalu. Semenjak sembuh, Ratri belum sempat melakukan check up ke rumah Julaiha dan baru berobat setelah terpleset.

Julaiha (kiri) sedang memijat Mbah Ratri (kanan). (Foto: Dea Alvi Soraya/ Republika)


Iman mengaku baru pertama kali mengantar neneknya pijat di rumah pijak Julaiha. Dia sedikit bingung memberikan uang terima kasih. "Biasanya bayarnya berapa mba?" tanya Iman kepada salah satu keluarga pasien yang sedang duduk di ruang tunggu. "Enggak dipatok sih Mas, seikhlasnya," ujar perempuan tadi.

Iman membuka tas nya dan mengambil dompet berwarna coklat tua yang terbuat dari kulit. Tangannya mengambil uang kertas pecahan Rp 50 ribu dan memasukkannya dalam amplop yang sudah disiapkannya di balik kantong kemeja.

Nama Ratri telah dipanggil, Iman memapah Ratri perlahan menuju ruangan. Julaiha mulai membuka penyangga berwarna biru yang digunakan untuk menyangga tangan Ratri yang bengkak. Perban jingga pudar yang melilit tangan ratih juga dibuka, dan menyisakan kapas putih sepanjang 50 sentimeter yang membungkus luka Ratri.

Tangan Julaiha mulai beraksi, mencari titik titik yang bermasalah dan perlu diluruskan. Teriakan tertahan dari nenek usia 80 itu mulai terdengar. Tangannya menggenggam keras lengan Iman yang sejak tadi memegangnya. Kepalanya tertempel di dada Iman sambil meredam teriakan. Mata Ratri terpejam menahan sakit. Teriakannya lolos juga, "Aduuuhh umiii.. sakiit.." teriak Ratri.  "Sabar Mbah..." ujar Julaiha mencoba mengalihkan rasa sakit Ratri.

Namun teriakan Ratri tidak berlangsung lama. Hanya sekitar lima menit, tangan Ratri telah kembali terlilit kapas baru yang dilapis kain elastis jingga dan penyangga yang tadi dia kenakan.

Iman memberikan amplop putihnya kepada Julaiha dan langsung dimasukkan ke laci abu-abu yang berada di samping ranjang pasien. Rumah Pijat Julaiha juga menyediakan ruang inap, meskipun tidak seluas RPTHN. Ruang inap Julaiha hanya berkapasitas empat orang dan biasanya diisi pasien yang mengalami cedera serius atau berasal dari daerah jauh.

(Baca Juga: Rumah Pijat Tulang Haji Naim tak Mematok Tarif)