Selasa , 25 April 2017, 02:57 WIB

Atasi Tawuran Warga, Polres Jakarta Timur Kerahkan Dua Kompi Pasukan

Rep: Alfan Tiara Hilmi/ Red: Nidia Zuraya
Alfan Tiara Hilmi/Republika
Sekitar dua kompi anggota kepolisian yang terdiri dari Brimob dan Sabhara  baru saja diturunkan untuk mengamankan area Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur dari aksi tawuran warga, Senin (24/4).
Sekitar dua kompi anggota kepolisian yang terdiri dari Brimob dan Sabhara baru saja diturunkan untuk mengamankan area Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur dari aksi tawuran warga, Senin (24/4).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aksi tawuran di Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur yang sempat mereda pukul 16.30 WIB tadi, kembali meletus sekitar pukul 22.00 WIB, Senin (24/4).  Ketegangan antar warga Bataliyon Siliwangi (BS) dan Budi Asih Taman Harapan kembali terjadi karena kelompok BS melakukan aksi provokatif. Yaitu dengan meledakkan petasan di dekat pom bensin Dewi Sartika.

"Tadi sore sudah reda sebenarnya, tapi ada petasan lagi yang diledakkan kelompok Bataliyon Siliwangi (BS). Jadi kelompok lawannya, warga Budi Asih Taman Harapan dateng lagi," kata salah seorang warga setempat, Soleh (42 tahun) di lokasi kejadian, Senin (24/4) dini hari.
 
Menurut saksi yang lain, Ganda, mengatakan kelompok BS meledakkan petasan karena salah seorang anggotanya, Albert (16) terkena serangan celurit. Sehingga mereka berniat untuk melakukan aksi balasan kepada kelompok Budi Asih.
 
"Tadi ada yang terluka, dari BS kan. Nah tahu ada anggotanya yang terluka langsung nyerang mereka pakai petasan, der der der!" kata Ganda.
 
Korban telah dibawa ke Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Albert yang merupakan warga asli Kramat Jati itu mengalami luka di bagian kepala akibat serangan celurit. Saat tiba di rumah sakit, celurit tersebut juga masih menancap di kepalanya.

Jalan Dewi Sartika kembali dapat dilalui kendaraan walau permukaan jalan penuh dengan krikil dan pecahan kaca. Meskipun bentrokan telah mereda, masih banyak warga yang terlihat berkumpul di sisi kanan  kiri jalan.

Efek pedih dari gas air mata di bagian mata dan hidung sangat terasa ketika melewati wilayah ini. Masyarakat sekitar terlihat mengoleskan pasta gigi di bagian bawah mata  dan hidung mereka. Olesan pasta gigi dianggap mampu menangkal efek pedih dari gas air mata.

Hingga 00.45 WIB, situasi kembali aman terkendali. Aparat kepolisian terlihat berbaris rapi mengawasi situasi jalan. Sekitar tiga  kompi anggota kepolisian yang terdiri dari Brimob dan Sabhara diturunkan untuk mencegah aksi tawuran kembali terjadi.
 
"Ada sekitar dua kompi yang kami turunkan, dari Sabhara dan Brimob. Ada dari Polda Metro dan Polres Jakarta Timur," kata Kapolres Jakarta Timur, Kombes Pol, Andry Wibowo, Selasa (25/4) dini hari, di lokasi kejadian.
 
Andy mengatakan, kepolisian akan terus berjaga hingga bentrokan antara dua warga tersebut selesai secara total. Pihaknya juga akan mempertemukan struktur pemerintahan dan anggota masyarakat agar bisa bekerja sama mencegah aksi tawuran terjadi.
 
"Pokoknya kita akan lakukan penjagaan sampai ini selesai total," ujar dia.

Kepolisian mengatakan saat ini telah memeriksa beberapa orang yang terlibat dalam aksi tersebut. Dari pemeriksaan itu, harapannya dapat diketahui asal wilayah massa tersebut, motivasi dan model pergerakan yang terjadi di sana.
 
"Tentunya ada beberapa yang sudah kami amankan, kita akan periksa, kita akan periksa motivasinya , model gerakannya ,apakah anak wilayah ini saja apakah ada keributan di luar kampung," jelas Andry.
 
Andry mengatakan, tawuran adalah permasalahan yang harus diselesaikan bersama. Menurutnya peran tokoh agama dan masyarakat setempat sangat diperlukan untuk mencegah hal yang serupa kembali terluang.

"Ini persoalan masyarakat, semuanya harus peduli. Secara historis mereka punya konflik memang. Jadi harus diatasi bersama-sama," kata Andry