Senin , 17 July 2017, 18:14 WIB

Luhut: Proyek LRT Bisa Dihemat Rp 6 Triliun

Red: Bilal Ramadhan
Republika/Prayogi
Kendaraan melintas di samping proyek infrastruktur transportasi massal kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) di kawasan Halim, Jakarta, Jumat (30/6).
Kendaraan melintas di samping proyek infrastruktur transportasi massal kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) di kawasan Halim, Jakarta, Jumat (30/6).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyebut proyek pembangunan light rail transit Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (LRT Jabodebek) bisa dihemat Rp 6 triliun dengan menggunakan sistem persinyalan "moving block" (jeda).

Luhut saat membuka Kongres Teknologi Nasional (KTN) 2017 di Jakarta, Senin mengatakan setelah melakukan penghitungan ulang dengan perubahan teknologi yang dipakai, pemerintah menilai biaya yang bisa ditekan dalam anggaran proyek mencapai Rp 6 triliun.

"LRT ini sudah sempat jalan, tapi kami hitung ulang, kami lihat ada teknologi yang bisa diubah, ternyata 'cost' bisa kurangi sampai Rp6 triliun," katanya.

Menurut Luhut, penggunaan sistem persinyalan "moving block" yang mengatur jarak rangkaian kereta berdasarkan jeda waktu itulah yang menjadi sumber penghematan proyek.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan tadinya proyek LRT Jabodebek menggunakan sistem persinyalan "fixed block" atau yang menentukan "headway" (jangka waktu kedatangan) kereta berdasarkan jarak.

Namun, khusus LRT Jabodebek, Budi mengatakan pemerintah sudah memutuskan untuk menggunakan "moving block" yang mengatur "headway" berdasarkan waktu seperti lima menit sekali. Dengan sistem persinyalan tersebut, "headway" menjadi lebih singkat sehingga kereta api yang beroperasi bisa lebih banyak.

Jumlah kereta yang lebih banyak dipastikan juga akan dapat mengangkut lebih banyak penumpang sehingga membuat biaya investasi yang lebih rendah. "Dengan penumpang yang lebih banyak, karena penumpang adalah faktor pembagi, maka dipastikan akan dapat angka investasi yang lebih rendah sehingga mendapatkan 'return' yang lebih pendek. Di situlah penghematan itu," katanya.

Sebelumnya, pemerintah memutuskan akan menggunakan sistem persinyalan "moving block" pada LRT Jabodebek sehingga menambah rincian anggaran proyek yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp 21,7 triliun menjadi sekitar Rp 22 triliun.

"Ada kenaikan lagi biayanya, tapi ada kenaikan spesifikasi juga. Ada tambahan sekitar Rp 200 miliar sampai Rp 300 miliar," katanya.

Mantan Direktur Utama Angkasa Pura II itu menjelaskan pemerintah memang berupaya untuk merampingkan anggaran proyek transportasi massal itu. Namun, ia memastikan efisiensi dilakukan dengan tetap memberikan manfaat sebesar-besarnya agar perjalanan tetap tepat waktu.

Sesuai arahan Presiden Jokowi, pemerintah akan tetap mengejar target penyelesaian proyek LRT Jabodebek pada awal 2019. Sementara LRT Palembang ditargetkan rampung pertengahan 2018 guna mendukung Asian Games 2018.

Sumber : Antara