Rabu , 26 Juli 2017, 18:38 WIB

Pedagang Beras Bingung dengan Kebijakan HET Pemerintah

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Teguh Firmansyah
Republika/ Tahta Aidilla
Pedagang sedang menata beras pada kios, Jakarta (ilustrasi).
Pedagang sedang menata beras pada kios, Jakarta (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang bingung dengan aturan harga eceran tertinggi (HET) yang diterapkan pemerintah. Menurut mereka, tidak bisa beras yang beragam jenisnya dijadikan satu harga, yaitu Rp 9.000.

"Kita bingung dong kan beras dari tiap daerah ada. Beda daerah hasilnya juga beda kualitasnya, belum lagi kalau petaninya panennya sedikit," ujar pedagang beras di toko nDaru bernama Rozi (46) kepada Republika.co.id, di tokonya, Rabu (26/7).

Ia kemudian menunjukkan beberapa beras dengan jenis yang sama namun beda daerah. Pertama, ia mengambil sejumput beras yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. Kemudian ia mengambil kembali  beras yang berasal dari Jawa Barat. "Nih ini sama-sama IR-64. Tapi lihat kualitasnya berbeda kan? Lebih bagus yang dari Jawa Barat ini," kata dia.

Tapi, ia kembali mengatakan, beras dari Solo juga ada yang bagus. Ia lalu mengambil sampel beras itu dan menaruhnya di meja yang sama dengan dua jenis beras tadi. "Ini juga dari Solo. Nggak beda jauh sama yang ini (menunjuk beras dari Jawa Barat). Satu daerah saja sudah ada yang beda, belum lagi daerah-daerah lainnya," ungkap Rozi.

Karena itu, ia meminta kejelasan kepada pemerintah. Jangan hanya memberikan patokan harga dan disamaratakan semuanya. Ia mengakui, memang ada beras yang harganya di bawah Rp 9.000, tapi kualitasnya kurang bagus.

"Kalau ditanya ada yang Rp 8.000 ya ada. Sekarang juga ada barangnya. Tapi kualitasnya kurang bagus, konsumen mau tidak yang begitu," terang dia.

Pedagang beras lain, Alexander menjelaskan, beda kualitas beras disebabkan perbedaan jenis tanah dan sistem perairan di suatu daerah. Ia juga mengambil contoh dua beras dari daerah yang berbeda. Menurutnya, kualitas beras yang berasal dari dataran tinggi atau pegunungan lebih bagus ketimbang di dataran yang rata atau landai.

"Soalnya kan kalau di dataran tinggi itu airnya mengalir. Kalau di dataran rendah biasanya agak kurang kualitasnya. Warna berasnya lebih gelap ketimbang yang satu lagi," tutur pria yang saat ditemui Republika.co.id sedang duduk di depan tokonya itu.

Memang, warna beras yang ia tunjukkan ke Republika.co.id cukup kentara perbedaan warnanya. Beras yang Alex sebut dari wilayah Bandung, Jawa Barat, lebih terang dan tidak ada yang menir atau patah. Sedangkan yang lainnya, dari Demak, Jawa Tengah, terlihat tidak terlalu putih dan ada beberapa butiran beras yang patah.